Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional di Kebumen: Upacara Wedhusan
Sejarah : Masyarakat Kebumen, khususnya daerah Sruweng adalah masyarakat agraris, mereka kebanyakan adalah petani.Oleh karena itu mereka sangat percaya dan selalu menjaga tempat-tempat yang mempunyai kaitan dengan pertanian dan lingkungannya. Mereka percaya bahwa setiap tempat itu ada yang mbau rekso, ada yang menjaga, seperti jalan, selokan, sawah, dan juga desanya. Agar yang “menjaga” atau yang mbau rekso tidak marah, maka mereka lalu mengadakan upacara dengan membersihkan tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat tinggal orang yang mbau rekso. Upacara tersebut juga sebagai ucapan syukur kepada yang maha kuasa, atas hasil panen yang telah di berikan. Deskripsi : Upacara Wedhusan biasanya di lakukan warga Pandansari di perempatan jalan yang paling besar di daerah Pandansari. Warga juga kadang menyelenggarakan sendiri di tiap RT upacara Wedhusan di selenggarakan pada setiap pergantian tahun baru saka yakni bulan Suro, tanggalnya bisa berapa saja, yang penting Suro. Upacara di lakukan selama tiga hari dengan puncak acara berupa pagelaran wayang kulit. Dana untuk kegiatan ini di kumpulkan dari seluruh warga Pandansari, juga menerima bantuan dana dari orang-orang yang melewati perempatan tempat di selenggarakannya upacara. Penentuan hari pelaksanaan upacara di lakukan dengan musyawarah. Semua kegiatan di lakukan secara bersama-sama, baik pada waktu pengumpulan dana, bersih desa, membuat tumpeng dan sesajen, memasak dan lainnya. Upacara tersebut menggunakan kambing atau wedhus untuk sarana ritual. Wedhus itulah yang di masak bumbu gulai dan di bagikan kepada warga selanjutnya di makan bersama. Do’a dalam upacara memakai bahasa Jawa walaupun di awali dengan ucapan assalamualaikum.