Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTahap-tahap penanaman padi di Dusun Bali, Blimbing, dan Mendak/Cara menanam padi dengan sistim tumpangsari
Sejarah : Dusun Bali, Blimbing, dan Mendak, adalah nama tiga dusun diantara 9 dusun yang terdapat di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Di Girisekar lahan pertanian disebut tegal, pada umumnya tanah pertanian tegal berupa tadah hujan. Pada umumnya setelah ada tanda-tanda akan mulai turun hujan penduduk mulai mempersiapkan lahannya dengan cara dibajak atau dicangkul. Kegiatan selanjutnya adalah melakukan selamatan negalke wiji, pelaksanaannya dipusatkan di tiap-tiap RT. Untuk masing-masing RT sudah memiliki patokan hari tertentu dalam melaksanakan negalke wiji. Setelah dilakukan kegiatan negalke wiji, masing-masing kepala keluarga lalu mulai menbar benih, hari pelaksanaannya memilih hari baik yang dipandang oleh masing-masing kepala keluarga. Dengan demikian kegiatan menyebar benih antar kepala keluarga yang satu berbeda dengan yang dilakukan oleh kepala keluarga yang lain. Warga Girisekar dalam menanami lahannya secara tumpangsari yaitu dalam satu lahan ditanami padi, diantara tanaman padi tersebut ditanam pula ketela pohon, dan jagung. Bagi Dusun Bali, Blimbing, dan Mendak yang letaknya berdekatan, kegiatan melakukan negalke wiji memilih hari Senin Paing. Ada ketentuan untuk ketiga dusun tersebut saat melakukan negalke wiji harus sesudah dilakukan pembukaan Cupu Panjala, yaitu tiga buah benda yang dianggap keramat bagi sebagian para pendukungnya. Cupu Panjala ini disimpan oleh salah seorang warga Dusun Mendak. Pemilik Cupu Panjala memperoleh benda tersebut secara tutun temurun. Deskripsi : Setiap dusun di wilayah Desa Girisekar terbagi atas beberapa RT. Masing-masing RT punya hari pilihan tersendiri untuk melaksanakan negalke wiji. Setelah negalke wiji para kepala keluarga menyebar benih, hari pelaksanaan sesuai dengan perhitungan hari baik masing-masing. Lablaban dilakukan pada saat tanaman padi berumur antara 2 hingga 3 minggu. Kegiatan yang dilakukan adalah membersihkan rumput dan memberi pupuk. Dalam rangka lablaban disertai perlengkapan makanan untuk kenduri, selain itu ada makanan khusus yang disebut uler-uleran yang dianggap sebagai penolak hama. Setelah kenduri di RT selesai sebagian dari uler-uler ditanam di tegal. Saat menanam uler-uler pemilik tegal mengucapkan doa agar hama menjauh. Kegiatan suwuk dilakukan pada saat tanaman padi berumur antara 2 – 3 bulan, yaitu saat padi mrekatak. Biasanya pada umur tersebut tanaman padi dikerumuni walang sangit. Pemilik lahan melakukan suwuk walang sangit dengan cara melakukan penyemprotan dengan dlingo dicampur bawang. Kegiatan suwuk tidak disertai selamatan tetapi saat menyemprot harus memperhatikan arah angin. Pada saat menyemprot tersebut pemilik tegal mengucapkan doa yang cukup panjang. Kegiatan selanjutnya dilakukan pada saat tanaman padi berumur 3,5 bulan yaitusaat posisi pohon padi tumungkul (tunduk). Pemilik tegal melakukan penyemprotan dengan gula merah dicampur kelapa yang sudah diparut. Pekerjaan ini dilakukan hari pasaran Wage, tujuannya agar padi berisi, maksudnya tidak gabug. Pada saat menyemprot pemilik tegal mengucapkan doa. Saat memetik padi disertai selamatan serta doa yang cukup panjang. Saat menyimpan padi alasnya diberi daun kluwih. Pemilik tegal saat melakukan penyimpanan padi mengucapkan doa khusus.