’Tari Angguk Kipas’ jenis seni pertunjukan Jawa yang bergenre seni tari religi. Disebut ’Tari Angguk Kipas’ karena dalam pertunjukan ini semua penarinya membawa kipas. Perlengkapan wajib lain berupa kacamata. Pemain ’Tari Angguk Kipas’ semuanya kaum laki-laki, dengan kostum mengenakan celana panji, kain supit urang, slempang, blangkon, dan asesoris lainnya.
Teknik menari dalam seni pertunjukan ini dilakukan sambil duduk, jongkok, dan jengkeng, dengan diiringi lagu-lagu shalawatan, dengan diiringi musik rebana dan jedor.
Pada saat ini (12018), paguyuban seni ’Tari Angguk Kipas’ di Kabupaten Sleman sudah hampir punah, tinggal satu komunitas, yakni di Dusun Musi Kebo, Desa Argabinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Itupun semua penarinya sudah lanjut usia, tidak ada yang usianya di bawah limapuluh tahun, bahkan ada penari yang usianya sudah 88 tahun. Kesenian ini sulut berkembang karena kurang menarik minat kaum muda untuk mengikutinya karena daya jualnya kurang menjanjikan, jarang bahkan hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk tampil yang bisa mendatangkan hasil secara finansial.
Kesenian ini jika pun laku ditanggap hanya untuk keperluan sosial dan relegi, seperti tampil dalam acara selingan dalam kegiatan pengajian, tampil dalam acara khitanan, selapanan bayi, selamatan perkawinan, dan tidak dibayar.