Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBRAMBANG BAWANG - Sleman, DIY
’Brambang Bawanhg’ adalah seni pertunjukan Jawa berupa teater tradisional, semacam ketoprak, dengan melakonkan cerita ’Brambang Bawang’. Dalam seni pertunjuka ini para pemain saat memasuki dan meninggalkan panggung dilakukan dengan menari. Seni pertunjukan ini menggelarkan lakon cerita dongeng Brambang Bawang. Alkisah, di Dusun Sambega, ada seorang janda bernama Nyai Randa Sambega. Ia mempunyai dua orang anak gadis, bernama Brambang dan Bawang. Brambang adalah anak kandungnya. Sementara Bawang adalah anak tiri, anak dari suaminya dengan istri terdahulu. Nyai Randa Sambega memperlakukan kedua anak tersebut dengan tidak adil. Brambang sangat disayang dan di manja. Ia tidak pernah diberi beban pekerjaan, pekerjaannya setiap hari hanyalah bersenang-senang. Berkebalikan dengan sikapnya terhadap Bawang. Kepada Bawang, Nyai Randa Sambega sangat benci. Seluruh beban pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada Bawang. Pada suatu hari Bawang mencuci pakaian milik ibu dan adiknya di sungai. Tiba-tiba ketika itu datang banjir sehingga beberapa potong pakaian dan beruk (gayung)-nya terhanyut. Sesampainya di rumh, ibu dan adiknya marah dan menyuruh Bawang untuk mencari pakaian dan gayung yang hanyut, yakni berupa popok limaran bersulam dan gayung tempurung kelapa gading berukir. Ia tidak diijinkan pulang jika apa yang dicari belum diketemukan. Bawang kemudian kembali ke sungai untuk mencari pakaian dan gayungnya. Mula-mula ia menanyakannya kepada seorang bapak yang sedang memandikan kuda (paman sing ngguyang jaran), namun ia tidak mengetahui. Ia menyarankan agar Bawang bertanya kepada paman yang memandikan sapi. Paman yang memandikan sapi menyarankan agar Bawang menanyakannya kepada paman yang memandikan kerbau. Paman yang memandikan kerbai menyarankan agar Bawang menanyakannya kepada seorang nenek yang sedang mencuci beras (Nini sing mususi). Ternyata popok limaran dan beruk cengkir gading-nya memang ditemukn oleh nenek tersebut, namun barangnya sudah dibawa pulang, disimpan di rumahnya. Bawang kemudian mengambil alih pekerjaan si nenek, berasnya ia cucikan. Sesudahnya ia mengikuti si nenek pulang ke rumahnya. Sampai di rumah si nenek, Bawang segera mengambil alih pekerjaan si nenek, yakni menanak nasi, memasak sayur, dan menyapu lantai dan halaman. beberapa saat kemudian pulanglah suami nenek dari hutan, yang ternyata adalah sorang raksasa yang sangat bengis (kakek buto). Si nenek segera menyuruh Bawang untuk bersembunyi. Setibanya di rumah, Kakek Buto membau adanya aroma orang asing. Kakek Buto tergiur ingin segera memangsanya. Si nenek menjelaskan bahwa memang ada orang asing di rumah. Akan tetapi ia tidak boleh dimangsa, karena anaknya sangat baik, rajin, dan pandai memasak. Kakek Buto kemudian disuruh makan nasi dan sayur hasil masakan Bawang, yang memang sangat enak. Kakek Buto kemudian meminta Bawang untuk mencari kutu di rambutnya. Nenek mengizinkan dengan janji Kakek tidak boleh memangsa si Bawang. Setelah Kakek Buto berjanji, Nenek kemudian memanggil Bawang untuk keluar dari persembunyiannya, untuk mencari kutu di rambut Kakek Buto. Semula Bawang merasa takut, namun tidak berani menolak permintaan Kakek Buto. Ternyata ’kutu’ yang berada di rambut Kakek Buto berupa berbagai binatang kecil, seperti kelabang, kecoa, lipan, dan lain sebagainya. Selama dicari kutunya oleh Bawang, Kakek Buto merasa nyaman, hingga tertidur. Kemudian Bawang mohon diri untuk pulang, dan meminta popok dan beruk-nya. Atas sikap Bawang yang sangat baik dan rajin, nenek menghadiahi Bawang buah labu untuk dibawa pulang. Untuk itu Bawang disuruh memilihnya sendiri. Bawang memilih buah labu yang paling kecil, dengan pertimbangan tidak berat dalam membawanya. Sesampainya di rumah, buah labunya dibuka, ternyata isinya berbagai perhiasan emas dan permata. Melihat hal itu Brambang menginginkan buah labu yang lebih besar, agar perhiasan emas dan permata yang didapatkannya lebih banyak. Ia kemudian bersikap seperti Bawang, yakni mencuci di sungai dengan menghanyutkan popok dan beruk-nya, dan berbuat seperti bawang. Ketika ia akan diberi hadiah buah labu oleh si Nenek, Brambang memilih buh yang paling besar. Ternyata ketika dibuka di rumah, labu Brambang bukan berisi perhiasan emas dan permata, melainkan berisi seekor ular naga, yang kemudian mengejar dan mematuk Brambang dan ibunya hingga mati.