Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAnde-ande Lumut-Sleman, Yogyakarta
’Ande-Ande Lumut’ adalah seni pertunjukan Jawa berupa teater tradisional, semacam ketoprak, dengan melakonkan cerita ’Ande-ande Lumut’. Dalam seni pertunjuka ini para pemain saat memasuki dan meninggalkan panggung dilakukan dengan menari. Cerita ’Ande-ande Lumut’ merupakan bagian dari cerita Panji, yang penuh dengan kisah pengembaraan, penyamaran dan pencarian. Cerita ’Ande-ande Lumut’ diawali dengan pengembaraan Dewi Sekartaji, putri Kerajaan Kediri, yang menyamar sebagai gadis desa. Ia akhirnya menumpang pada seorang janda di Dukuh Karang Mulusan bernama Mbok Randa Sembega, yang memiliki tiga anak gadis, bernama Pleting Abang, Pleting Ijo, Pleting Biru. Dalam keluarga tersebut Dewi Sekartaji dianggap sebagai saudara bungsu, dengan diberi nama Pleting Kuning. Ia bekerja sebagai pembantu untuk melayani ketiga Pleting bersaudara. Pada suatu hari terdengar berita bahwa seorang janda di Dusun Dadapan (Mbok Randha Dadapan) memiliki seorang perjaka yang sangat tampan bernama Ande-ande Lumut, yang sedang mencari istri. Banyak gadis yang berusaha ngunggah-unggahi (mendekati), namun belum ada yang terpilih. Pleting Abang, Pleting Ijo, dan Pleting Biru berniat mau ikut ngunggah-unggahi. Mereka bertiga kemudian berdandan untuk ikut ngunggah-unggahi Ande Ande Lumut. Mendengar berita tersebut Pleting Kuning juga ingin ikut ngunggah-unggahi. Mendengar keinginan Pleting Kuning, ketiga kakaknya, yakni Pleting Abang, Pleting Ijo dan Pleting Biru tidak memperbolehkan, dengan alasan ia tidak cukup cantik untuk bisa menarik perhatian Ande-ande Lumut. Untuk menghalangi keinginan Pleting Kuning, Pleting Abang Pleting Ijo dan Pleting Biru kemudian membedaki Pleting Kuning dengan jelaga dan melumurinya dengan telek lencung (kotoran ayam) agar Pleting Kuning tidak keliahatan cantik dan berbau tidak sedap. Selain itu, Pleting Kuning juga dihalangi, dengan disuruh mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga di sebuah sendang. Ia baru boleh ikut berangkat ngunggah-unggahi Ande-Ande Lumut jika sudah selesai mencuci hingga peralatan rumah tangga yang dicucinya kembali bersih seperti baru. Ia pun menerima persyaratan terebut dengan hati sedih. Ia segera [pergki ke sungai untuk mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga. Ia butuh waktu lama untuk mencuci peralatan rumah tangga agar kembali bersih seperti baru. Ketika itu ada belas kasih yang merasa kasihan melihat kesedihan Pleting Kuning. Datanglah seorang dewa (Bathara Narada) di hadapan Pleting Kuning. Dengan kesaktiannya Bathara Narada membantu Pleting Kuning agar peralatan rumah tangga yang dicucinya segera kembali bersih seperti baru. Selain itu, Bathara Narada juga memberi Pleting Kuning sebuah senjata bernama ’sada lanang’ yang akan berguna untuk mengatasi masalah. Selanjutnya, Bathara Narada memerintahkan kepada Pleting Kuning agar segera menyusul kakak-kakaknya ke Dusun Dadapan guna nginggah-unggahi Ande-Ande Lumut. Untuk sampai ke Dusun Dadapan harus menyeberangi suangi yang sedang banjir. Pleting Abang Pleting Ijo dan Pleting Biru bisa menyeberangi sungai atas bantuan seekor yuyu raksasa, dengan upah ciuman. Namun si yuyu tidak mau menyeberangkan Pleting Kuning, karena ia tidak cantik dan berbahu kotoran ayam. Kemudian Pleting Kuning memukulkan pusaka ’sada lanang’ ke sungai sehingga seketika sungai kering. Pleting Kuning berhasil melintasi sungai dengan tiada kesulitan. Sesampainya di Dusun Dadapan, ternyata Pleting Kuninglah yang dipilih oleh Ande-Ande Lumut, karena ia masih suci, belum dicium oleh yuyu kangkang. Ternyata Ande-Ande Lumut adalah wujud penyamaran Raden Panji Inukertapati, putra Mahkota Jenggala, kekasih Dewi Sekartaji, putri Kediri yang menyamar sebagai Pleting Kuning.