Persembahan hasil bumi pada Sang Hyang Widi berupa sebagian hasil bumi dan binatang piaraan oleh penduduk /masyarakat Tengger dimasukkan ke kawah Gunung Bromo dengan harapan masyarakat Tengger bisa hidup makmur terhindar dari bencana dan banyak rejeki.
Penyelenggaran upacara ini terkait dengan legenda Tengger (Lara Anteng dan Jaka Seger) yang semula cukup lama tidak dikaruniai putra, akhirnya berdoa sehingga mendapat anak dengan perjanjian anak yang terakhir harus dipersembahkan. Rara Anteng dan Jaka Seger mempunyai 25 orang anak. Akhirnya anak yang ke-25 terjilat api yang keluar dari Kawah Gunung Brama, hingga masuk kawah. Sejak saat itu setiap tahun masyarakat Tengger mempersembahkan sebagian dari hasil bumi dan benda-benda miliknya dengan cara dibuang ke kawah Gunung Brama.