Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Klasik Gaya Yogyakarta : Wayang Wong Mataraman (Gaya Yogyakarta) - Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta
Sejarah : Wayang Wong Mataraman (Gaya Yogyakarta) Wayang Wong Mataraman diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I pada pertengahan abad ke XVIII dengan mengambil cerita Gondowardoyo dan Joyosemedi. Sultan Hamengku Buwana II menciptakan wayang wong dengan cerita Joyopusaka. Sedangkan Sultan Hamengku Buwana V menciptakan wayang wong dengan cerita Progolomurti, Petruk dadi ratu, Rabinipun Angkawijaya, Jayasemedi dan Pergiwa-pergiwati. Kemudian Sultan Hamengku Buwana VII menciptakan wayang wong dengan cerita Sri Suwela dan Pregiwa-Pregiwati. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII kesultanan mengadakan pentas wayang wong dengan cerita Jayasemedi, Sri Suwela, Samba Sebit Ciptaning Martorogo, pancakromo, Srikandi, Meguru Monah, Sembodro Larung, Jayapusaka, Semar Boyong, Rama Nitik, Rama Nitis,Pregiwa-pregiwati, Angkawijaya Krama, Pancawala Kramo dan Pragolomurti. Sedangkan Sultan Hamengku Buwana IX juga mementaskan wayang wong dengan cerita Rabinipun Irawan dan Bedhaipun Dwarawati. Deskripsi : Wayang Wong Mataraman (Gaya Yogyakarta) Wayang Wong merupakan drama tari yang didalamnya terdapat perpaduan yang harmonis antara drama atau cerita yang dibawakan dengan dialog prosa Jawa, tari dan instrumen gamelan sebagai pengiringnya. Dalam pertunjukan Wayang Wong selain setiap penari berdialog ada pula juru cerita yang disebut pemaos kondho. Dengan begini dalang Wayang Wong gaya Yogyakarta adalah pemaos kondho. Di dalam Kraton Yogyakarta dalang yang sebenarnya adalah Sultan Hamengku Buwana. Oleh karena itu pada adegan jejer, raja ditempatkan disebelah kiri pemaos kondho. Pakaian wayang wong gaya Yogyakarya pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII maupun sebelumnya, belum seperti sekarang ini. Pakaian wayang wong pada masa itu adalah tepen, songkok dan udheng gilik. Pakaian wayang wong yang dipakai sekarang ini baru dimulai pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII. Adapun yang emnciptakan kapaian wayang wong tersebut adalah KRT. Jayadipura dengan menggunakan tata busana wayang kulit tersebut membutuhkan peranan untuk membedakan peran yang satu dengan lainnya. Jaman keemasan wayang wong di Kraton Yogyakarta terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII. Pentas wayang wong di Kraton Yogyakarta ada yang berlangsung hanya seharti tetapi ada pula yang sampai empat hari empat malam. Hampir semua cerita yang dipentaskan dalam wayang wong gaya Yogyakarta mengambil cerita yang didasarkan pada Epos Mahabarata. Hanya Rama Nitik dan Rama Nitis yang merupakan kombinasi antara Mahabarata dan Ramayana