Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Klasik Gaya Yogyakarta : Langendriya - Kraton, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta |
Sejarah :
Langendriya Gaya Yogyakarta diciptakan oleh KGPA Mangkubumi dan KRT Purwodiningrat pada tahun 1876. Pada saat itu(Pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VI) setiap bulan puasa semua kegiatan yang berhubungan dengan tari dan gemelan dihentikan. Sebagai gantinya malam hari diadakan kegiatan membaca babad yang berbentuk tembang, demikian juga di rumah KRT Purwodinengrat.
Suatu ketika KRT. Purwodiningrat usul agar para pembaca diberi pakaian yang lebih serta duduk berhadap-hadapan ditengah pendapa. Adapun cara untuk menuju ke tengah-tengah pendapa dilakukan secara berjongkok dengan teratur dan rapi. Gagasan KRT. Purwodiningrat disetujui oleh KGPA. Mangkubumi. KGPA. Mangkubumi mengusulkan agar berjalan jongkok ke tangah pendapa tersebut dilakukan sambil menari dan setiap peranan dibawakan satu orang masing-masing memakai pakaian tari, sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik. Maka lahirlah Langendriyadengan menampilkan cerita dari serat Damarwulan.
Untuk menjaga agar bentuk kesenian ini tidak punah maka siswa Among Beksa pada tahun 1977 mengadakan penelitian. Hasil penelitian ini langendriya bisa dinikmati sampai sekarang ini.
Deskripsi :
Langendriya berasal dari kata langen yang artinya hiburan dan kata driya yang berarti hati. Sedangkan dalam seni tari klasik gaya Yogyakarta Langendriya merupakan drama tari sejenis wayang wong, tetapi dengan menggunakan dialog tembang dan mengambil cerita Damarwulan. Langendriya gaya Yogyakarta ditarikan oleh penari laki-laki semua mempergunakan posisi tari berjongkok dan hanya diprtunjukkan di luar Kraton Yogyakarta.
Ragam tari, ditarikan dengan jongkok artinya kedua lutut tidak boleh menyentuh lantai kecuali pada saat tancep. Gerakan kakai sejalan dengan gerakan kaki pada tari wayang wong sedang tangan dan kepala sama dengan wayang wong (tari biasa).
Mengenai dialognya dengan tembang tanpa senggokan di tengah-tengah tembang. Kadang-kadang dialog ini boleh diselingi dengan dialog seperti pada wayang wong Mataraman. Sedangkan busana tarinya bagian bawah sepeerti wayang wong, hanya saja semua penari memakai baju yang beraneka ragam coraknya.