Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Pangeran Maoneng |
Setelah perkawinan dengan Dewi Sulastri, Pangeran Maoneng dengan disertai Patih Yudhapraja dan para pengawal pergi bersama ke wilayah Mataram sebelah barat. Perjalanan mereka terhenti setelah akan masuk ke alas roban. Untuk keselamatan perjalanannya maka diperintahkan oleh Maoneng, agar semua tetap berada di luar hutan adapun ia sendiri akan menghadap dan meninjau situasi alas roban.
Dalam peninjauannya Pangeran Maoneng bertemu dengan adipati Surahadilogo yang sebenarnya juga sedang mencari orang yang mempunyai ciri-ciri seperti Pangeran Maoneng. Kebetulan mereka bertemu dengan Surohadilogo agar Pangeran Maoneng mau mengikutinya ke Kadipaten Agung untuk dikawinkan dengan putrinya, namun Pangena Maoneng menolak ia sendiri sudah beristri, maka terjadilah peperangan, sehingga Pangeran Maoneng dapat dikalahkan, akhirnya ia mengikuti Adipati Surohadilogo ke Kadipaten Kebon Agung.
Setelah Pangeran Maoneng melibatkan Sarloneng di Kadipaten Kebon Agung, ia menjadi tertarik dan akhirnya berdua dikawinkan.
Di balik perkawinan mereka ada seorang yang merasa kecewa yakni Patih Jongsari (Patih Kebon Agung). Patih Jongsari sebenarnya menaruh perhatian terhadap Putri Sarloneng, namun sebelum sempat menyampaikan isi hatinya sudah terlebih dahulu ia dikawinkan dengan Pangeran Maoneng. Yang akhirnya kecewa dan beralih menjadi kebencian yang amat sangat kepada Pangeran Maoneng.
Seperti biasanya sebagai warga baru di Kadipaten Kebon Agung maka Pangeran Maoneng juga tidak luput dari syarat-syarat yang berlaku yakni harus dicoba kepandaian dalam berperang. Namun lain masalahnya buat Patih Jongsari.
Peristiwa ini adalah kesempatan untuk melampiaskan dendamnya terhadap Pangeran Maoneng sehingga dalam percobaan ini Pangeran sempat diperdaya oleh Patih Jongsari dan pengikut-pengikutnya. Kejadian ini mengakibatkan kemarahan Adipati Surodilogo dan akhirnya terjadilah peperangan antara Jongsari dengan Adipati Surodilogo. Semua ini memang telah dipersiapkan oleh Patih Jongsari untuk dapat merebut tahta Kadipaten Kebon Agung, sehingga dalam peperangan ini Adipati Surodilogo terbunuh.
Sudah habislah semua rintangan untuk dapat mencapai maksudnya, setelah tahta direbutnya, maka putri Sarloneng dipaksa oleh Patih Jongsari untuk menjadi permaisurinya. Namun Putri Sarloneng menolak dengan keras, yang akhirnya lari meninggalkan Kadipaten Kebon Agung. Dalam pelariannya ia bertemu dengan Pangeran Maoneng.
Patih Jongsari yang sedang mencari Putri Sarloneng di tengah jalan bertemu dengan Pangeran Maoneng yang dianggapnya sudah meninggal, setelah terlihat bahwa Pangeran Maoneng bersama-sama dengan Putri Sarloneng, Patih Jongsari terkejut dan heran karena Pangeran Maoneng masih hidup.
Akhirnya terjadi perng tanding antara Pangeran maoneng dan Patih Jongsari kembali. Di tengah-tengah peperangan mereka berdua mengadu kesakitan, kemudian datanglah Putri Sulastri dan pengikutnya yang semula ditinggalkan di luar hutan roban (alas roban).
Atas bantuan prajurit Mataram dan Pusaka Kyai Pleret akhirnya Patih Jongsari dapat dibunuhnya. Yang kemudaian mayat Patih Jongsari dibuang di sebelah selatan sungai Malang (bahasa Jawa) yang melintang dari barat ke timur di sebelah selatan Pantai (Laut Jawa).
Sehingga tempat dimana Patih Jongsari dibuang, diberi nama Pemalang dan sekarang menjadi Kota Kabupaten Pemalang.