Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Menanam Padi |
Sejarah :
Menurut masyarakat Ponorogo, yang percaya rahasia alam dalam kepercayaan mereka tidak dipikirkan secara teoritis ilmiah untuk menyusun suatu kosmologi. Konsepsi religi mereka, bahwa hidup itu tergantung alam dan jika mereka harmonis dengan alam dianggap sudah beres. Keharmonisan itu ditentukan oleh praktek, kemudian dicoba membenarkannya dengan metologi tentang asal-usul alam dan tata susunan alam. Selanjutnya diproyeksikan pengalamannya sekarang ke jaman dulu.
Deskripsi :
Sebelum sawah ditanami padi, terlebih dahulu diawali dengan suatu upacara yang menurut orang Ponorogo, disebut "jawab godha rencana" (menolak marabahaya). Upacara ini menggunakan merang (tangkai padi yang sudah kering) dengan disertai cok bakal. Cok bakal ini berupa nasi yang dibungkus dengan daun pisang kluthuk, berisi nasi putih dengan lauk pauk gudhangan serta telor. Sebagai kelengkapan lainnya adalah nasi, bunga dan menyan. Cok bakal diletakkan disudut petak sawah sambil disertai dengan doa. Setelah doa selesai kemudian diteruskan dengan menggarap sawah.
Setelah menggarap sawah selesai diteruskan dengan tandur (menanam padi). Sebelum tandur dimulai, didahului dengan wilujengan (selamatan) berupa undur-undur, cok bakal, encek dan kutug. Encek berisi nasi jagung, gula kelapa, kunyit, pala kependhem dan jadah. Biasanya sebelum mengadakan selamatan undur-undur, di rumah pemilik sawah diawali dengan selamatan berupa buceng kuwat, buceng brok dan rosulan jenang abang, jenang putih. setelah selamatan undur-undur selesai, sesaji itu dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil. Selesai selamatan undur-undur kemudian dimulai menanam padi.
Setelah tanaman padi meteng (bunting), pemilik sawah mengadakan upacara selamatn rujak-rujakan. Rujak tersebut dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ada disepanjang jalan menuju ke sawah. Sesudah selamatan rujakan, diteruskan dengan penancapan janur tali wangsul di keempat sudut sawah. Pada saat selamatan ini diikuti dengan obong-obong merang (membakar tangkai padi kering).
Pada malam hari sebelum mulai pemotongan padi (wiwit panen) lebih dahulu dilakukan upacara penghormatan kepada Dewi Sri (mBok Sri). Upacara ini berupa pawai para petani yang dipimpin kaum. Anak-anak kecil dengan membawa peralatan janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, kendi berisi air, api, pala kependhem, bungkusan nasi, pisang. Arak-arakan petani ini setelah sampai di sawah dengan dipimpin kaum berdoa agar hasil panennya baik.