Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaGong Gumbeng
Sejarah : ng Gumbeng adalah salah satu jenis kesenian yang ada di Desa Wringinanom, Kabupaten Ponorogo. Kesenian Gong Gumbeng ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Wringinanom. Gong Gumbeng telah ada sejak tahun 1837 dan merupakan jenis kesenian yang tergolong langka bahkan dikatakan kesenian tinggal satu-satunya di dunia. Gong Gumbeng adalah seperangkat alat musik tradisional khas masyarakat Desa Wringinanom, Kabupaten Ponorogo yang mirip gamelan Jawa. Alat musik Gong Gumbeng ini terdiri gumbeng (mirip seperti angklung), gong bonjor, kendang, siter dan kecer. Gong Gumbeng dimainkan satu tahun sekali untuk mengiringi ritual bersih desa masyarakat Desa Wringinanom pada bulan Selo atau Dzulqaidah. Instrumen utama alat musik ini terdiri dari angklung bambu berjumlah 15 buah. Setiap angklong terdiri tiga potong bambu dan tiga potong mempunyai perbedaan nada satu oktaf, dipasang tergantung pada ongkek (gawang tempat mengantung angklung). Agar iramanya lebih merdu ada beberapa peralatan musik lain yang mengiringinya yaitu sebuah gong gumbeng (gong bonjor), sebuah kendang, sebuah siter dan sebuah kecer. Di Desa Wringinanom Gong Gumbeng hanya ada satu unit. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan artinya hingga sekarang belum membutuhkan untuk diduplikasi. Alat musik Gong Gumbeng yang ada sekarang ini masih original belum pernah diganti sejak pertama kali pembuatannya. Meskipun sekarang ini ada beberapa bagian yang lapuk. Istilah Gong Gumbeng sendiri ada yang mengatakan nama "gumbeng" asal mulanya dari kata bumbung yang berati potongan bambu. Dari istilah itu maka lahirlah istilah "gumbeng". Ada juga yang mengatakan bahwa "gumbeng" berasal dari kata "mubeng" artinya hanya dengan menggunakan alat yang sederhana sudah bisa memainkan beberapa lagu sehingga bisa "mubeng" (dapat memainkan beberapa gending). Deskripsi : Bentuk instrumen Gong Gumbeng adalah : 1. Gumbeng yang terdiri seperangkat angklung yang berjumlah 15 potong dari yang kecil sampai yang besar. Angklung yang besar sebagai kenong, yang sedang sebagai bonang dan yang kecil sebagai penelisik. Angklung ini memiliki tangga nada pentatonik yaitu nada yang menggunakan lima buah nada pokok dan berlaras slendro. Tiap angklung terdiri tiga tabung bambu yang dirangkai dalam ongkrak (tempat penyangga tabung bambu). 2. Gong Bonjor yaitu merupakan alat musik yang terbuat dari bambu ori, yang terdiri dua buah bambu dengan ukuran besar dan kecil. Bambu yang besar salah satu ruasnya terbuka dan bambu yang kecil dimasukkan dalam bambu yang besar. 3. Kendang yaitu isntrumen yang terbuat dari kayu yang berlubang, di kedua sisinya ditutup dengan kulit diatur dengan tali-tali yang terbuat dari rotan yang disebut mengulum dan diberi gelang yang dinamakan suh. Kendang yang digunakan untuk mengiringi Gong Gumbeng dinamakan kendang batangan. Fungsi kendang untuk mengendalikan irama dan untuk mengolah nafas permainan. 4. Siter merupakan salah satu unsur alat gamelan yang berfungsi sebagai pelengkap. Siter dibuat dari bahan kawat baja yang disusun berjajar memanjang di atas kotak kecil berbentuk persegi panjang. Sebagaimana kesenian lainnya Gong Gumbeng juga membutuhkan pendukung yaitu pengrawit (yogo), pengundang dan penonton. Jumlah pengrawit Gong Gumbeng seluruhnya 8 orang yaitu 3 orang memainkan gumbeng, 1 orang memainkan gong bonjor, 1 orang memainkan siter, 1 orang memainkan kendang, 1 orang memainkan kecer dan 1 orang lagi sebagai pesinden (waranggana). Adapun urut-urutan gendingnya yaitu: Pembuka (Kebogiro), Kutut Manggung, Pangkur, Sinom Parijoto, Kinanti Sandung, Godril dan sebagainya. Gending yang baku dan harus dimainkan yaitu Kutut Manggung. Musik Gong Gumbeng ini dalam upacara bersih desa untuk mengiringi tari tayub.