Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | PENGANTIN GAYA PEMALANG/Asesories Tradisional |
Sejarah :
Seni rias pengantin tiap daerah memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun yang lebih populer di masyarakat pantura adalah gaya Yogyakarta dan Solo. Padahal, gaya khas daerah sendiri jika dikemas sedemikian rupa tidak kalah bagusnya.
Menurut pengurus harian Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Pemalang. Ny. Hj Didik Haryadi, akrena di daerah pantura orang lebih mengenal gaya Solo dan Yogyakarta, akhirnya gaya daerah sendiri terlupakan. Dikhawatirkan jika tidak segera dilakukan penggalian kembali akan hilang.
Menurutnya, karya seni orang Pemalang di bidang tata rias pengantin tidak kalah dengan daerah lain. Bahkan ada unggulan tersendiri. Namun sekarang banyak masyarakat tidak tahu atau lupa. Jelas karena kurangnya sosialisasi.
Deskripsi :
Seni rias pengantin tiap daerah memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun yang lebih populer di masyarakat panturan adalah gaya Yogyakarta dan Solo. Padahal, gaya khas daerah sendiri jika dikemas sedemikian rupa tidak kalah bagusnya.
Untuk menggali kembali budaya adiluhung itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pihaknya belum lama ini menggelar sarasehan gaya pengantin Pemalang juga dalam upaya penggalian.
Menurutnya karya seni orang Pemalang di bidang tata rias pengantin tidak kalah dengan darah lain. Bahkan ada unggulan tersendiri. Namun sekarang banyak masyarakat tidak tahu atau lupa. Jelas karena kurangnya sosialisasi.
Maksud diadakan sarasehan masyarakat akan menjadi tahu bahwa Pemalang mempunyai budaya sendiri yang adiluhung.
Dalam sarasehan ditampilkan model pasangan gaya Pemalang. Para peserta juga antusias menangakan beberapa hal mengenai tata rias. Bahkan model pengantin yang digiring ke tempat duduk peserta sarasehan menjadi rebutan mereka untuk melihat dari dekat.
Pertimbangan Bisnis
Makin menghilangnya rias pengantin gaya Pemalang juga karena para perias tidak permah menggunakan atau menawarkan kepada pemakai. Yang ditawarkan gaya Yogyakarta dan Solo, karena sudah populer dan juga pertimbangan bisnis. Sehingga masyarakat akhirnya hanya mengetahui gaya luar daerah. Sedangkan gaya daerah sendiri makin tenggelam.
Jateng memiliki aset tata rias pengantin beragam, karena masing-masing daerah memiliki gaya tersendiri. Maka sudah saatnya gaya Pemalang dibangkitkan kembali.
Namun hal itu tidak gampang karena harus digali kembali dari asal usulnya. Kemudian dalam penerapan di masyarakat hendaknya tidak harus persis betul dengan aslinya. Jika diterapkan sesuai aslinya bisa jadi konsumen akan lari. Oleh karena itu perlu inovasi dan disesuaikan dengan medo kopntempoter agar masyarakat modern menyukai.