Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMenyambut Bulan Suro di Traji
Sejarah : Upacara tradisional menyambut tanggal 1 Suro disertai pertunjukan wayang kulit. Pada jaman dahulu ketika orang Traji belum melakukan upacara ini setiap malam hari menjelang tanggal 1 Suro ada beberapa penduduk yang mendengar suara yang di anggap aneh. Mereka mendengar suara yang bunyinya seperti sedang ada pertunjukan wayang kulit. Penduduk lalu mencari sumber arah suara, ternyata suara ini berasal dari sebuah mata air (sendang) yang airnya melimpah, namanya sendang Sidukun. Penduduk lalu berinisiatif melakukan pertunjukan wayang kulit setiap malam menjelang tanggal 1 Suro. Rencana ini lalu ditindak lanjuti oleh warga. Pada awalnya pertunjukan wayang kulit dilakukan di dekat sendang. Pada suatu hari setelah beberapa kali penduduk menyelanggarakan pertunjukan wayang kulit dalam rangka menyambut tanggal 1 Suro, ada salah seorang warga bernama Sukandar bermimpi ditemui Kyai Agung yaitu makhluk halus penjaga sendang. Dalam mimpinya itu Sukandar merasa dipesan oleh Kyai Agung. Adapun isi pesan itu agar setiap kali mendengar gerakan pertunjukan wayang kulit dalam rangka menyambut tanggal 1 Suro dilengkapi dengan sejumlah sesaji, baik sesaji untuk sendang maupun sesaji untuk tempat pertunjukan wayang kulit. Selanjutnya Kyai Agung menyebutkan perlengkapan sesaji yang harus disediakan. Sejak saat itu setiap kali melakukan pertunjukan wayang kulit selalu disertai sejumlah sesaji dengan pesan Kyai Agung. Selain itu mulai saat itu setiap kali diadakan pertunjukan wayang kulit ada sejumlah aparat desa dengan busana Jawa datang ke Sendang Sidukun. Hal ini dilakukan dengan harapan agar air sendang tetap melimpah. Mulai ada peristiwa G 30 S ada perubahan pelaksanaan menyambut tanggal 1 Suro. Perubahan tersebut pertunjukan wayang kulit dilakukan di Balai Desa Traji. Selain itu kepala desa dan istrinya memakai busana pengantin diarak dari Balai Desa menuju Sendang Sidukun. Deskripsi : Beberapa hari menjelang hari H masyarakat telah mempersiapkan keperluan salah satu keperluan itu adalah membuat keranjang untuk meletakkan sesaji buangan. Sebelum Maghrib dilakukan kenduri di rumah kepala desa dengan perlengkapan sesaji tersebut. Selesai kenduri para warga lalu menuju ke halaman balai desa untuk mempersiapkan diri mengikuti kirab menuju Sendang Sidukun. Pada saat kirab, berjalan paling depan petugas keamanan lalu petugas pembawa sesaji, menyusul kepala desa dan istri yang mengenakan busana pengantin. Di belakang kepala desa berjalan para istri perangkat desa, disusul para warga yang mengikuti kirab. Sementara itu di sepanjang jalan sejumlah manusia yang menunggu lewatnya pasangan kepala desa. Jarak antara Balai Desa ke Sendang Sidukun sekitar 1 km. sampai di kompleks sendang, kadus dan istrinya duduk di dekat mata air Sendang Sidukun. Mata air ini diberi dinding bulat yang pada bagian atasnya diberi tutup yang bentuknya menyerupai tutup dandang. air dari mata air ini dialirkan lewat pipa menuju kolam. Setelah kepala desa dan istri duduk di dekat mata air, kaur kesra lalu mengucapkan doa. Sesudah itu kepala desa menyerahkan kacar-kucur kepada istrinya, hal ini sesuai dengan acara dalam pengantin. Acara selanjutnya adalah memasukkan sesaji ke dalam mata air sendang. Rombongan kepala desa, setelah meninggalkan mata air Sendang Sidukun lalu menuju mata air Kali Bong terus ke mata air Puring, selanjutnya menuju Sendang Kalijaga terus ke mata air Kalipapas, Kali Wedok, dan terakhir singgah di Kali Lanang. Setiap kali rombongan ini sampai di mata air berhenti sebentar untuk berdoa. Selesai mengarungi beberapa mata air rombongan kepala desa lalu berjalan menuju Balai Desa.