Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Dayakan - Magelang, Jawa Tengah
Sejarah: Asal mula adanya kesenian Dayakan sampai saat ini tidak diketahui secara pasti. Kesenian ini merupakan wujud spontanitas dalam berekspresi dan berapresiasi dalam berkesenian masyarakat lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Kesenian ini menggambarkan tentang kehidupan orang-orang lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang hidupnya akrab dengan alam. Gerakan kesenian Dayakan seperti pada kesenian-kesenian tradisional di lereng merapi lainnya seperti kesenian Rodad, Reog Thotok Uwok, Kobrosiswo, Shalawatan, Badui, Truntung dan lain lain. Para penari kesenian Dayakan adalah kelompok masyarakat yang mata pencaharian sebagai pedagang, petani, peternak, buruh, dan sebagainya. Kesenian Dayakan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan lereng gunung Merapi dan Merbabu. Saat ini kesenian Dayakan telah berkembang dan menjadi salah satu ikon kesenian Kabupaten Magelang, yang dikenal dengan nama Kesenian Topeng Ireng. Dinamakan kesenian Dayakan karena kesenian ini dimainkan oleh orang yang banyak sekali, sekitar 200 orang. Dalam bahasa Jawa orang yang banyak sekali disebut dengan istilah sak dayak, sehingga karena kesenian ini pemainnya banyak sekali maka dinamakan Dayakan. Deskripsi: Kesenian Dayakan banyak berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan lereng Gunung Merapi dan Merbabu pada kurun waktu sekitar tahun 1950-an. Pada waktu itu apabila umat Islam membangun Masjid ataupun Mushola dipasang Mustaka atau Kubah, sebelumnya Mustaka itu di kirab keliling desa. Kirab tersebut diikuti oleh masyarakat setempat di sekitar Masjid dengan didahului kesenian Dayakan yang diiringi oleh tetabuhan rebana, bedug, bende, jender, dan syair-syair yang digunakan adalah syair puji-pujian yang bersifat Islami dan perjuangan. Kesenian ini menggunakan kostum berupa daun daunan, pelepah pisang, janur, daun cemara serta riasan wajah yang terbuat dari angus atau debu hitam hasil bakaran kayu, sekarang menggunakan siwit hitam dan putih. Gerakan yang di pakai yaitu gerakan dari simbol-simbol beladiri seperti menangkis, kuda kuda, menendang, menyerang, bertahan dan keluwesan perpaduan tari dan gamelan. Tarian Dayakan ini diadakan, dilakukan dan dipertontonkan secara masal. Pertunjukan Kesenian Dayakan terdiri dua jenis tarian. Yang pertama adalah Rodat yang berarti dua kalimat syahadat. Tarian ini ditampilan dengan gerakan pencak silat sederhana serta diiringi lagu-lagu syiar Islami. Sedangkan yang kedua adalah Monolan yang melibatkan penari dengan kostum hewan. Tarian ini melibatkan unsur mistik serta gerak pencak silat tingkat tinggi. Durasi pertunjukan Dayakan sangat fleksibel, tidak ada peraturan khusus mengenai lamanya tarian.Instrumen yang digunakan untuk mengiringi kesenian dayakan ini alat musik yang berupa gamelan, kendang, terbang, bende, seruling, dan rebana.