Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKirab Budaya Ruwat Bumi Panjer - Kebumen, Jawa Tengah
Sejarah : Kirab Budaya Ruwat Bumi Panjer merupakan kirab tahunan yang menjadi tradisi masyarakat sejak Panjer masih sebagai Kerajaan, hingga berubah menjadi Desa. Sesuai data babad dan catatan Belanda, Kerajaan/Negara Panjer di bawah pemerintahan Kuwu Panjer berubah menjadi kadipaten pada masa kerajaan Demak (Raden Patah). Sebutan Kuwu kemudian diubah menjadi Adipati setelah Kuwu Panjer menyetujui seluruh penduduknya memeluk Islam. Selanjutnya, Kadipaten Panjer diubah menjadi Kabupaten pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma dan secara resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan Mataram dengan bupati pertamanya Ki Badranala/Ki Gedhe Panjer I. Kabupaten Panjer berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen setelah penangkapan Pangeran Dipanegara di Magelang (tepatnya setelah penaklukan Kabupaten Panjer di bawah Kolopaking IV dengan pengepungan dan penyerangan besar – besaran oleh Belanda dari tiga jurusan). Ruwat Bumi Panjer tidak dilaksanakan lagi oleh masyarakat setempat sekitar tahun 1980 semenjak digantinya pimpinan pabrik Sarinabati. Sebelumnya, ruwat bumi Panjer rutin dilaksanakan dengan mengarak kepala Kerbau yang diiringi gamelan mengelilingi kompleks Sarinabati dan menguburnya di salah satu tempat keramat di kompleks pabrik. Ruwat bumi Panjer yang awalnya merupakan agenda tahunan masyarakat Panjer diambil alih penyelenggaraannya oleh pihak NV. Vabrieken Insulinde (setelah Pendopo Kabupaten Panjer dibumihanguskan dan dibuat pabrik oleh Belanda tahun 1851) yang kemudian berubah nama menjadi Mexolie pada awal 1900, berubah menjadi Nabatiasa setelah kemerdekaan dan PMK Sarinabati sekitar tahun 1970 an. Pergantian Pimpinan Sarinabati dan berhentinya kegiatan ruwat bumi Panjer disusul oleh bangkrutya PMK Sarinabati (sekitar tahun 1986). Deskripsi : Pada tahun 2010, Kirab Ruwat Bumi Panjer pun diselenggarakan kembali di prakarasai oleh sekelompok pemuda pelestari budaya (Komunitas Wahyu Pancasila) yang diketuai oleh Ravie Ananda, dan Bambang Priyambodo, S. Sos (keturunan trah Panjer Ki Badranala; Bupati Panjer masa Sultan Agung Hanyakrakusuma). Bersamaan dengan itu, dibangkitkan pula Kesenian Tradisional asli Panjer “ Sendratari Yudha Cakrakusuman Panjer/Ebleg Singa Mataram”. Meskipun masyarakat Panjer masih kurang perhatian terhadap ruwat bumi tersebut, kegiatan tetap dilaksanakan setiap tahun dijatuhkan pada hari Selasa Kliwon di bulan Muharram/Sura dengan rangkaian kegiatan antara lain : 1. Pengurasan Sendang Panjer 2. Ziarah Ke makam Kuwu Panjer, Pamoksan Gajah Mada dan pertabatan Raja – Raja Panjer 3. Ruwat Bumi 4. Kirab Tumpeng 5. Kirab Pusaka 6. Pagelaran Sendratari Yuda Cakrakusuman Panjer (Ebleg Singa Mataram) yang merupakan kesenian asli dari Kabupaten Panjer yang diciptakan oleh Sultan Agung ketika berada di Panjer.