Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKentrung - Tuban, Jawa Timur
Kesenian Kentrung yang dipentaskan Mbah Surati yang ini dilakukan pendataan usianya lebih 100 tahun, merupakan keturunan ketiga dari pemain Kentrung Mbah Dasiman, sedangkan Mbah Surati mewarisi ibunya. Pada waktu itu, Mbah Surati memainkan Kentrung dengan mengamen keliling Tuban dan sekitarnya. Dahulu Mbah Surati sering diajak ngamen ibunya, sehingga mudah mewarisi, hafal dan mampu memainkan alat-alat serta menyanyikan syair-syair Kentrung. Pemain Kentrung hanya tiga orang, dengan alat musik kendang, terbang dan ketipung. Alat musik yang dimiliki Mbah Surati adalah peninggalan (diberikan) pemain kentrung lama yaitu Mbah Sumowage suami dari adik misanan ibu Mbah Surati. Mbah Surati, selain memainkan kendang sekaligus sebagai penyanyi. Pada waktu pentas, yang diajak hanya sebatas memainkan alat musik terbang dan ketipung, belum mampu menyahut lagu-lagu kentrung, sehingga hanya sendiri melantunkan lagu kentrung. Pengalaman Mbah Surati selama mengamen keliling Tuban hingga 10 hari sekali pulang, dan saat perjalanan sering menginap di rumah petinggi desa (kepala desa). Pertunjukan kentrung sering malam hari pukul 21.00-04.00, dan mendapat tanggapan orang punya hajat khitanan, nikah, dan undangan para tokoh di Tuban, bahkan ada yang dari luar kota Tuban. Pada waktu pementasan atau pertunjukan, Mbah Surati sering membawakan lagu-lagu dengan syair dengan cerita Siti Zulaika, Terang Bulan, Wulan Suci, Sukosengkoro, Nagih Utang, dan berbagai cerita moral yang memiliki nilai pendidikan dalam menghadapi hidup. Menurut Mbah Surati, kesenian Kentrung makin lama makin berkurang atau tidak bisa berkembang, karena kurangnya tanggapan (undangan tampil), sementara generasi muda tidak minat, mungkin dilihat kesenian Kentrung tidak menjanjikan dan bukan kesenian yang menarik. Untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian kentrung sudah tidak memungkinkan, karena generasi muda sudah tidak ada yang berlatih atau mau meneruskan. Sementara keturunan Mbah Surati juga tidak ada (tidak mempunyai keturunan).