Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Tebokan Jenang/Tradisi Bancakan Jenang - Kudus, Jawa Tengah |
Sejarah:
Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah merupakan cikal bakal produksi makanan kecil yaitu jenang. Makanan yang terbuat dari bahan baku tepung beras ketan, gula kelapa dan santan kelapa tersebut kini telah menjadi salah satu ikon Kota Kudus, selain soto ayam, soto kerbau, sate kerbau, lentog dan lain-lain.Di Desa Kaliputu terdapat sekitar 40 pengusaha yang memproduksi jenang Kudus, bahkan pada hari-hari tertentu misalnya pada saat menjelang hari libur panjang pengusaha jenang Kudus meningkat. Jenang Kudus menjadi salah satu penopang perekonomian bagi masyarakat Desa Kaliputu.
Sebagai bentuk rasa syukur atas berkah dari usaha pembuatan jenang maka masyarakat Desa Kaliputu mengadakan Kirab Tebokan yang dilaksanakan pada setiap tanggal 1 Muharam. Kirab Tebokan Jenang Desa kaliputu tersebut dilaksanakan tidak lepas dari legenda sebagian perjalanan Sunan Kudus R Djakfar Sodiq dan Syech Jangkung (Saridin) serta Dempok Soponyono dan cucunya.
Konon , saat mbah Dempok Soponyono sedang asyik bermain dengan burung dara keplekan di pinggir sungai, cucunya hanyut di sungai tersebut. Kemudian anak tersebut ditolong oleh sejumlah warga. Sementara mbah Dempok yang juga senang naik kuda tunggangan tak menyadari kalau cucunya telah kalap karena aksi jahat banaspati.
Sunan Kudus dan Syech Jangkung yang sedang melawati tempat peristiwa itu terjadi melihat ada kerumunan orang yang sedang dilanda kepanikan. Kemudian mereka mengahampiri kerumunan tersebut dan Sunan Kudus yakin bahwa si anak yang telah hanyut tersebut sudah meninggal. Namun Syech Jangkung nenyatakan bahwa cucu mbah Dempok tersebut masih hidup, anak tersebut hanya mati suri. Oleh karena itu agar anak tersebut menjadi siuman maka Syech Jangkung meminta agar dibuatkan jenang dari bubur gamping untuk menyuapi anak tersebut. Bubur gamping tersebut terbuat dari tepung beras, garam dan santan kelapa. Setelah anak tersebut disuapi dengan bubur gamping ternyata anak tersebut kembali siuman.
Namun ada cerita lain yang melatarbelakangi adanya jenang di Kudus. Menurut cerita rakyat, jenang kudus lahir ketika Sunan Kudus (salah satu anggota Wali Sanga) menguji kesaktian salah satu muridnya yang bernama Syech Jangkung alias Saridin dengan menyuruhnya memakan bubur gamping di tepi Sungai Gelis di wilayah Desa Kaliputu. Padahal, gamping adalah salah satu hasil tambang yang sebagian besar mengandung kalsium karbonat dan biasanya dicampur dengan semen untuk digunakan sebagai bahan pembuatan tembok.
Ternyata Saridin tetap segar bugar sehingga Sunan Kudus berucap, ”Suk nek ono rejaning jaman wong Kaliputu uripe seko jenang.” Artinya lebih kurang, jika suatu saat kelak sumber kehidupan warga Desa Kaliputu berasal dari usaha pembuatan jenang
Dari legenda tersebut kemudian berkembanglah usaha pembuatan jenang di Desa Kaliputu. Pada awalnya pada masyarakat membuat sendiri jenang ketika mereka ada acara, misalnya tasyakuran atau walimahan. Namun kemudian berkembang menjadi makanan khas Kudus hingga dikenal masyarakat luas baik di dalam maupun mancanegara
Untuk mengenang peristiwa tersebut maka di Desa Kaliputu diadakan Kirab Tebokan Jenang.
Diskripsi:
Kirab Tebokan Jenang merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Desa kaliputu Kecamatan kota Kudus kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Desa Kaliputu merupakan desa sebagai cikal bakal produksi jenang yaitu salah satu kuliner khas Kudus selain soto kerbau, sate kerbau lentog tanjung dll.
Kirab Tebokan Jenang dilaksanakan setiap tahun sekali yaitu pada tanggal 1 Muharam. Kirab Tebokan Jenang dilakukan oleh anak-anak dengan cara berjalan dengan menyunggi tebok yang berisi jenang serta jajanan lainnya menyusuri jalan dari Gang I hingga berakhir di Balai Desa. Namun dalam perkembangannya route kirab berakhir di halaman makam Sosrokartono (adik RA Kartini).
Maksud dan tujuan dilaksanakan Tebokan Jenang yaitu sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah dari usaha pembuatan jenang yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Desa kaliputu.
Adapun pelaksanaan Tebokan Jenang di Desa kaliputu tersebut dari tahun ke tahun mengalami perkembangan sesuai dengan dinamika masyarakat setempat. Hal itu karena tradisi Tebokan Jenang mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupeten Kudus serta budayawan/seniman. Sehingga pelaksanaannya dikemas sedemikian rupa hingga lebih menarik untuk dinikmati oleh masyarakat sekitar Desa Kaliputu serta masyarakat Kudus pada umumnya, bahkan masyarakat luar Kudus. Pada acara tersebut diramaikan dengan pentas seni dan juga penyerahan santunan kepada yatim piatu.
TradisiTebokan Jenang menjadi momen kreativitas pengusaha jenang di Kudus. Pada Kirab Tebokan Jenang diperagakan secara visualisai alat pembuatan jenang yang diletakkan di atas bak mobil yang dihias. Seperti wajan besar (kawah), Kalo (sejenis tampah), ember dan parut. Begitu pula linggis dan alat pendukung pembuatan jenang.
Melalui prosesi Tebokan Jenang atau Bancakan Jenang sebagai ekspresi rasa syukur masyarakat Desa Kaliputu atas limpahan rahmat dari produksi jenang. Selain itu masyarakat Desa Kaliputu mempunyai harapan agar jenang dapat menjadi sumber penghidupan mereka. Dengan adanya Kirab Tebokan Jenang maka masyarakat Desa Kaliputu ikut melestarikan budaya yang ada di Desa Kaliputu.