Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaManten Tebu (Metikan) - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Bancakan berarti menandai dimulainya musim giling tebu. Masyarakat setempat menyebut dengan metikan. Pabrik gula Jatibarang adalah sisa peninggalan pemerintahan Belanda yang di bangun pada Th 1842. Belanda membangun pabrik gula di Jatibarang Brebes ada 3 pabrik di 3 tempat, yaitu antara lain : PG.Banjaratma, PG Jatibarang, PG Kersana,dari ke 3 pabrik gula tersebut akhirnya di gabung menjadi 1 yaitu PG. Jatibarang. Pelaksanaan Selamatan Giling sudah sejak lama dilaksanakan dari mulainya berdirinya pabrik yakni tahun 1842. Pada jaman colonial Belanda metikan dilaksanakan untuk menghibur masyarakat disekitar pabrik dan menjadi tolak ukur bahwa dengan adanya metikan berarti bahwa Pabrik Gula sudah saat nya untuk menggiling tebu. Sebelum pelaksanaan Resepsi Selamatan Giling yang dilaksanakan di Stamp Vloor atau juga disebut sebagai Stasiun Puteran dimana tempat proses pengkristalan gula. Posesi diawali sehari sebelumnya, seluruh manajemen melakukan ziarah ke makam Syeh Abdul Rohman bin Malik Ibrahim (Syeh Magribi) yang berasal dari desa Azamzami kota Magrabi sebelah barat Makkah yang makamnya terletak di desa Suro – Pesarean. Selain memberikan Doa dan menabur bunga juga membaca Tahlil serta meminta kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan serta diberikan berkah dan keuntungan untuk perusahan. Selanjutnya Rombongan kembali ke Pabrik dimana di Pabrik Tengah ada salah satu Makam yang terdapat di Tengah Pabrik Tengah tepatnya dibawah Masakan, Makam tersebut dikenal dengan nama Makam Mbah Mudin . Mbah Mudin adalah seorang pejuang asli Jatibarang dan juga seorang sakti yang sangat membenci bangsa penjajah saat itu sehingga makamnya tidak pernah mau untuk dipindah pada saat pembangunan Pabrik tersebut, saat dipindah ke suatu tempat maka makam itu kembali lagi ke tempat semula yaitu di dalam pabrik hingga saat ini. Setelah membacakan doa-doa di Makam Mbah Mudin dilanjutkan denga membaca Tahlil dan sholawat Nariyah yang bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT agar giling tahun 2010 selalu diberikan keselamatan dan keuntungan sehingga karyawan slalu diberikan kesejahteraan. Esok harinya dilanjutkan dengan Pengambilan Tebu Temanten yang akan diarak dari Kantor Tebang Angkut menuju tempat Penggilingan yatu di Krapyak Stasiun Gilingan, Pengambilan tebu penganten dilaksanan di dua kebun yaitu Kebun Klampis sebagai tebu temanten wanita yang diberi nama SITI SOLECHA bin PS JT 941 dan Kebun Bulakelor Lumbung sebagai Tebu Temanten Pria yang diberi nama AHMAD SOLICHIN bin PS 97 226. Sebelum mengambil tebu temanten tersebut dilaksanakan juga selamatan kebun temanten di area kebun masing-masing dngan membaca doa dan tahlil. Selanjutnya adalah pasang sesaji, hal ini telah dilaksanakan secara turun temurun dan ini menjadi suatu tradisi kepercayaan dimana kita sebagai manusia juga hidup berdampingan dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya diharapkan tidak saling menggangu. Biasanya pemasangan sesaji dilakukan di Stasiun Gilingan yakni dengan memberikan kepala Kerbau serta jajanan pasar dan beberapa tumpeng. Setelah pemasangan ritual sesaji dan doa kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Alquran, dan bagi panitia Upacara penerimaan tebu temanten melakukan gladi resik untuk persiapan esok hari. Tibalah saatnya pelaksanaan Resepsi Selamatan Giling , Diawali dengan diaraknya Temanten Tebu yang diarak dari Kantor Tebang dan angkut menuju Krapyak yang diiringi oleh rombongan rebana serta atraksi Drumband TK Permata yang meramaikan acara tersebut. Para Tamu undangan sudah berkumpul di Krapyak bersama karyawan guna melakukan upacara serah terima tebu temanten. Penyerahan tebu temanten dilakukan dengan upacara serta penyerahanya dari Kepala Sub Tebang dan Angkut diserahkan kepada Kepala Tanaman selaku pengelola Tanaman, Kepala tanaman menyerahkan kepada Kepala AKU selaku Pejabat yang mengelola financial kemudian Kepala AKU menyerahkan Tebu temanten kepada Administratur selaku pejabat puncak. Selanjutnya Administratur menyerahkan kepada Kepala Instalasi dan Kepala Pengolahan selaku Pejabat yang bertanggung jawab terhadap proses pembuatan Gula, dan dari kedua pejabat tersebut Tebu temanten diserahkan kepada Ketua SP BUN Nusantara IX Unit Kerja PG Jatibarang selaku Ketua Serikat Pekerja yang berhubungan dengan permasalahan ketenaga kerjaan. Selanjutnya tebu dimasukan kedalam krapyak untuk digiling.