Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Batik Tegal - Tegal, Jawa Tengah |
Sejarah:
Keberadaan batik di Tegal dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Amangkurat yang saat itu menyusuri pantai utara membawa pengikutnya yang di antaranya perajin batik. Perajin ini akhirnya menurunkan ilmunya pada anak cucunya dan meluas ke masyarakat. Aktivitas usaha batik tulis tegalan di Kota Tegal mengelompok dalam sentra industri kecil-menengah di Kelurahan Kalinyamat Wetan, Bandung, Tunon, dan Keturen, wilayah Kecamatan Tegal Selatan. Para perajin batik di Kota Tegal telah menggeluti batik secara turun-temurun. Adapun, corak batik yang hingga kini dikembangkan antara lain, corak beras mawur, tapak kebo dan dapur ngebul.
Perkembangan batik Tegal terkait erat dengan tokoh RA.Kardinah. RA.Kardinah menjadi nama sebuah rumah sakit milik Pemerintah Kota Tegal. Penamaan dimaksudkan untuk mengenang jasa RA Kardinah, istri Bupati Tegal, RM Adipati Ario Reksonegoro yang menjabat pada 1908-1936. RA. Kardinah juga membangun Sekolah Kepandaian Putri, untuk gadis pribumi ‘’Wismo Pranowo’. Di dalam sekolah tersebut, Kardinah selain memberi pelajaran setara dengan Sekolah Pribumi Kelas Dua pada masa pemerintah Belanda, juga memberi pelajaran praktik membatik. Ada fasilitas untuk membatik seperti gudang dan los untuk penyelesaian hasil-hasil pembatikan dengan soga (warna merah untuk batik) dan wedel (warna hitam untuk batik). Warna batik Tegal pertama kali sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, kemudian meningkat menjadi warna merah-biru.
Kardinah dan saudari-saudarinya selalu mengenakan sarung batik buatan sendiri, bukan karena dengan demikian ia bisa pamer secara murah tentang kecakapannya membatik, tetapi dan terutama sekali untuk membanggakan keunggulan seni rakyat pribumi yang sejauh itu belum dikenal dan belum ditandingi oleh negeri manapun. Kebanggaan itulah yang kemudian ditularkan kepada masyarakat Tegal lewat sekolah Wismo Pranowo. Upaya Kardinah dalam memperkenalkan hasil karya batik anak-anak didiknya bukan saja untuk dipakai sendiri tetapi juga dipamerkan. Tiap tahun suaminya bersama dengan guru-guru Wismo Pranowo menyelenggarakan pasar malam di alun-alun Tegal. Bersama dengan Perkumpulan Kesenian Hindia cabang Tegal mengadakan pameran di Pekalongan dan Cirebon.
Deskripsi:
Pewarna batik yang dipakai saat itu merupakan hasil buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu,nila, soga, kayu, dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Batik tulis Tegal atau tegalan itu dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif. Isen-isen agak kasar diilhami oleh flora dan fauna lingkungan. Ini dipadukan dengan warna spesifik yang lembut atau kontras. Warna lembut dan kontras adalah motif batik gaya pesisiran. Ini memunculkan kesan tegas dan lugas.
Motif batik Tegal mirip dengan batik keraton yakni didominasi warna hijau dan kecokelatan. Namun perkembangan berikutnya, para pembatik di kota ini, memberi motif batik dari flora dan fauna. Para pembatik berekspresi tanpa beban makna dan kegunaan. Perubahan corak, motif, dan dominasi warna batik Tegal tidak lepas dari pengaruh Kardinah. Motif-motif batik Tegal, mempunyai kekhasan, berbeda dengan daerah lain, sesuai dengan kondisi lingkungan si pembuatnya. Motifnya lebih bersifat ekspresi pembatiknya dalam merespons lingkungan, atau alam sekitar, flora dan fauna. Di Tegal kita mengenal motif dapur ngebul, gribikan, cempaka putih, gruda, kawung, tapak kebo, semut runtung, sawatan, tumbar bolong, kawung, blarak sempal dan motif-motif lainnya.
Walaupun secara geografis Tegal lebih dekat dengan Cirebon atau Pekalongan, tetapi motif-motif batik Tegal lebih ada kemiripan dengan batik Lasem, daerah yang tidak jauh dari tempat kelahiran Kardinah (Jepara). Batik Lasem dikenal dengan warna merahnya yang khas, seperti warna merah darah, dan tidak bisa ditiru perajin batik kota lain. Motif batik Lasem yang mirip dengan batik Tegal yaitu motif ‘’bunga batu pecah’’. Baik motif, corak, warna maupun isen-isen-nya hampir sama dengan batik Tegal motif ‘’tumbar bolong’’. Motif flora dan fauna Lasem mirip dengan batik Tegal, terutama pada isen-isen-nya.
Batik sangat dipengaruhi oleh pembuatanya, demikian pula Kardinah, dia lebih suka warna soga dan hitam, dan itulah yang kemudian dibawa ke Tegal, sehingga walupun batik Kardinah ‘’diilhami’’ oleh batik Lasem, namun yang dikembangkan di Tegal berbeda dari batik Lasem.