Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaWayang Rai Wong - Tegal, Jawa Tengah
Pembuat Wayang Rai Wong adalah Enthus Susmono. Enthus Susmono lahir pada tanggal 21 Juni 1966 di Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Ia adalah anak satu-satunya Soemarjadihardja, dalang wayang golèk terkenal di Tegal, dengan istri ketiga yang bernama Tarminah, bahkan R.M. Singadimedja, kakek moyangnya, adalah dalang terkenal dari Bagelen pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram. Awal mulanya penciptaan Wayang Rai Wong karena keprihatinan Enthus Susmono ketika ada beberapa anak SD yang sedang mengamati wayang Arjuna yang dipertontonkannya. Anak tersebut bertanya itu burung jenis apa ? karakter ksatria panengah Pandhawa, lebih-lebih hidungnya yang kelewat lancip itu memang mirip-mirip dengan paruh burung. Dari sinilah awal mula kenapa ia membuat Wayang Kulit Rai Wong. Keinginan untuk semakin mendekatkan wayang dengan generasi muda. Setelah sebelumnya ia pernah menghadirkan Wayang Prayungan, Wayang Figur-figur tokoh politik masa kini dan Wayang Planet.Kesadarannya sebagai dalang adalah sebagai kreator, mencairkan batas-batas formal sebagai tawaran estetika baru. Atau, melakukan ekpsplorasi terhadap kemungkinan lahirnya estetika sekaligus pemaknaan baru di dunia pewayangan agar tidak kelewat beku dan stagnan, sehingga tidak akan terjebak dalam bentuk pengulangan yang sudah ada. Meski kesadaran tersebut akan beresiko pada munculnya penolakan atau penerimaan. Namun terlepas dari pro dan kontra tersebut ia sebagai dalang yang selalu menyuguhkan fenomena-fenomena aktual secara eksplisit dalam garapan pakelirannya yang spektakuler, merasa lebih "sreg" apabila figur yang wayang kulitnya lebih bersifat visioplastik. Hal ini disamping relevan dengan dialog wayangnya yang menggunakan bahasa komunikatif, juga diharapkan dapat memediasi gerak-gerik wayangnya yang cenderung mengacu pada gerak keseharian. “Wayang orang yang dikulitkan"..seperti itulah konsep sederhana Wayang Kulit Rai Wong. Maka, menyaksikan wayang Bima rai (wajah) wong (manusia), siapa pun yang pernah menyaksikan wayang orang, pasti akan berasosiasi pada wayang wong. Bentuk hidung, mulut, mata, dan cambang tampak jauh lebih mendekati realis dibandingkan dengan wayang kulit. Begitu pula tangan, kaki, bagian tubuh yang lain, dan atribut yang dikenakan, meski di sana-sini ikonisitas wayang masih dipertahankan. Ataupun ia mengadopsi roman muka beberapa figur pemain wayang orang yang sangat dikenal masyarakat, seperti Semarnya Ria Jenaka TVRI (Sampan), Bagong yang hadir dengan atribut Tinky Winky (Teletubies). Petruk dan Gareng pun mengalami hal serupa. Baginya, hal apa pun yang sudah lebih dulu dekat dengan masyarakat, terutama di dunia generasi muda dan anak-anak dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk mengajak mereka menyelami dunia wayang. Sebab, mustahil sebuah interaksi dan komunikasi seni akan berjalan secara efektif tanpa didahului oleh sebuah apersepsi yang memadai. Deskripsi: Ki Enthus bereksperimentasi, berinovasi, dalam pewayangan, mislanya dalam menampilkan tokoh. Tokoh-tokohnya tidak hanya dari Mahabarata dan Ramayana seperti pewayangan pada umumnya. Tapi tokoh darah daging seperti George Bush, Saddam Husein, Osama bin Laden. Juga tokoh-tokoh yang diadaptasi dari film seperti Harry Potter, Batman, dan Alien. Dimasukannya tokoh-tokoh tersebut dalam pertunjukan untuk mengkritisi tokoh tersebut dengan media wayang. Eksperimentasi ki Enthus juga dalam segi tema pewayangan. Ia tidak hanya mengambil dari cerita Mahabarata dan Ramayana dan berkutat pada isu kekuasaan. Tapi tema-tema kekinian, yang dekat dengan masyarakat seperti tema anti-narkoba, HIV/AIDS, HAM, Global Warming, program KB, pemilu damai, dll. Tema-tema itu bukan jadi sampiran atau ditautkan. Tapi jadi tema utama. Wayang sebenanrnya membicarakan perkembangan yang ada. Dalang-dalang yang dulu, mereka menyikapi persoalan ketika ia hidup. Sebagai dalang yang hidup di zaman ini, yang dihadapi adalah masalah-masalah seperti itu. Menurut Ki Enthus wayang tidak stagnan, baik dari bentuk dan tema. Perubahan itu sudah berlangsung lama. Pada masa Walisongo misalnya, tema-tema wayang yang semula berisi ajaran Hindu digeser jadi ajaran Islam untuk menarik simpati penonton. Dari perubahan-perubahan itu, tentu ada yang tetap. Dalang harus Harus bisa memadukan antara wayang dan keadaan, dengan isu-isu aktual, yang lagi ramai dibicarakan banyak orang