Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tradisi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus - Kudus, Jawa Tengah |
Sejarah:
Upacara Tradisi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus merupakan sebuah tradisi yang unik di Kudus, sebagai puncaknya diselenggarakan pada setiap tanggal 10 Muharram. . Acara ini dilaksanakan tidak lepas dari salah satu tokoh wali songo yaitu Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Shadig sebagai pendiri Kota Kudus.. Tujuan dilaksanakan acara tersebut adalah untuk mengenang dan meneladani ajaran Sunan Kudus yang hingga saat ini masih relevan. Sikap toleransi yang tinggi yang diungkapkan dalam bentuk larangan menyembelih sapi dan adanya bangunan menara Kudus melambangkan persatuan budaya dan agama. Selain itu Sunan Kudus juga menginspirasi terbentuknya masyarakat Kudus Gusjigang yaitu sebutan unik orang Kudus yang terkenal dengan bagus perilaku, tekun mengaji dan ulet berdagang.
Tempat penyelenggaran upacara Buka Luwur disekitar area Masjid Sunan Kudus. Acara tersebut dihadiri oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya, karena acara ini diyakini sebagai acara yang penuh barakah.
Diskripsi:
Upacara Tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus merupakan tradisi yang dilkasanakan turun temurun oleh masyarakat Kudus. Buka Luwur berasal dari kata buka berarti membuka dan luwur berarti kain mori penutup makam Jadi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus adalah membuka dan mengganti Luwur atau kain penutup/mori makam Sunan Kudus. Upacara Buka Luwur dilaksanakan setahun sekali yaitu pada tanggal 10 Muharram, namun pembukaan Luwur dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram.
Tradisi Buka luwur Kanjeng Sunan Kudus seringkali disamakan dengan haul, yakni upacara tahunan untuk memperingati wafatnya seseorang yang dikenal sebagai tokoh agama, wali atau pejuang muslim lainnya. Namun Buka Luwur lebih pada tradisi penghormatan , bukan memperingati hari kematian karena sampai sekarang belum ditemukan catatan sejarah mengenai waktu wafatnya Sunan Kudus.
Adapun rangakaian acara Upacara Buka Luwur yaitu didahului dengan upacara ala Islam Kejawen, yakni penjamasan senjata Kangjeng Sunan Kudus yang berupa keris Cintaka. Acara tersebut dilaksanakan di bulan Besar yakni pada hari Senin atau Kamis pertama setelah hari tasrik.
Pengajian Umum Tahun Baru Hijriyah yang dilaksanakan pada malam 1 Syura. Acara ini dihadiri oleh masyarakat umum yang datang dari berbagai daerah di Kudus dan sekitarnya.
Pada tanggal 1 Syura pukul 06.00 WIB dilaksanakan upacara pelepasan luwur yang didahului dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh seorang kyai sepuh. Luwur dibawa ke Tajug, selanjutnya dipotong-potong dan disimpan. Pada puncak acara Tradisi Buka Luwur kain tersebut dibagikan kepada warga yang datang pada puncak acara yaitu tanggal 10 Muharram.
Sejak tanggal 1-10 Syura diadakan forum untuk belajar bersama memperdalam ilmu agama.Acara ini dihadiri oleh masyarakat umum, para santri dan para kyai.
Rangkaian acara berikutnya adalah pembacaan Do’a Rasul yang dilaksanakan pada tanggal malam 9 Syura yang bertempat di rumah Yayasan Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus di sebelah selatan pendopo Tajug. Selain itu juga di Serambi depan Masjid Menara Kudus ada pelentunan Terbang Papat yaitu kesenian khas Kudus. Acara ini dihadiri oleh masyarakat umum.
Pada tanggal 9 Syura jam 05.00 di dalam masjid diadakan khataman al-Qur’an bil Ghaib yang dilakukan oleh para hafidh (penghafal al-Qur’an). Sementara itu pada pukul 09.00 WIB dilakukan santunan kepada anak yatim yang dilaksanakan di Gedung YM3SK. Bersamaan dengan itu di sebelah timur pawestren ada pembuatan bubur Asyura yang akan dibagi-bagi pada penduduk sekitar Menara. Bubur Asyura ini ditunggu oleh masyarakat karena dipercaya mengandung berkah dan hanya dibuat pada tanggal 9 Syura.
Selanjutnya habis Isya sebelum pelaksanaan Pengajian Malam 10 Syura diselanggarakan pembacaan al- Berzanji. Yang dilaksanakan di Pawestren untuk kaum perempuan dan dan di opendapa Tjug untuk kaum laki-laki. Kemudian dilanjutkan dengan Pengajian 10 Syura yang merupakan salah satu ritus dalam Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus. Acara dihadiri oleh masyarakat umum baik laki-laki mapun perempuan, dewasa maupun remaja serta anak-anak secara khusuk mengikuti acara tersebut. Banyak dari mereka sengaja menginap untuk dapat mengikuti acara pemasangan Buka Luwur dan pembagian potongan kain luwur serta sego jangkrik pada keesokan harinya.
Pada tanggal 10 Syura pukul 01.30-03.30 dilaksanakan pembagian brekat salinan yang bertempat di Kantor YM3SK. Brekat salinan adalah brekat yang diperuntukkan bagi masyarakat dengan cara menukarkan nasi yang dibawa dari rumah.dan kemudian ditukar dengan brekat salinan. Di samping itu ada acara pembagian brekat shadaqah, yaitu pembagian brekat yang diberuntukan bagi masyarakat uyang telah memberikan shadaqah untuk keperluan Buka Luwur yang dilaksanakan pada pukul 0500-08.30. di Jalan Sunan Kudus. Sedangkan untuk masyarakat umum ada pembagian nasi jangkrik atau nasi menoro. Acara ini dilaksanakan pada pukul 05.30-09.00. Nasi jangkrik adalah nasi dengan masakan daging kerbau dengna bumbu uyah asem dan jangrik goreng yang dibungkus dengan daun jati yang diikat dengan bamboo atau anyaman jerami. Konon nasi jangkrik merupakan salah satu makanan favorit Sunan Kudus.
Sebagai puncak acara Upacara Tradisi Buka Luwur adalah pemasangan luwur yang dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB. Acara diakhiri dengan pembacaan Tahlil serta Do’a di makam kangjeng Sunan Kudus. Seusau pemasangan luwur kemudian para hadirin dibagikan brekat luwur dan potongan kain luwur lama makam Kangjeng Sunan Kudus.
Makna yang dapat diambil dari pelaksanan Upacara Tradisi buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus bahwa acara tersebut merupakan cerminan dari system nilai budaya dari masyarakat Kudus yang religius.dan masyarakat Jawa pada umumnya. Selain itu adanya sifat kegotong-royongan dan toleransi dalam pelaksanaan Upacara Buka Luwur.