Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Dandangan - Kudus, Jawa Tengah
Sejarah: Tradisi Dandangan merupakan tradisi yang unik yang dilakukan oleh masyarakat Kudus secara turun temurun sejak sekitar 450 tahun yang lalu, yaitu pada masa Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq) menyebarkan Agama Islam di Kota Kudus. Menurut sejarah nama “dandangan” diambil dari suara beduk Masjid Menara Kudus yang berbunyi dang, dang saat ditabuh untuk menandai awal bulan puasa. Pada awalnya, dandangan merupakan tradisi berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus setiap menjelang Ramadhan. Mereka menunggu pengumuman Syeikh Ja’far Shodig (Sunan Kudus) tentang penentuan awal puasa. Dengan memukul beduk di Masjid Menara Kudus yang berbunyi dang-dang-dang. Dari Suara beduq. Itulah yang maka lahir istilah dandangan. Dalam perkembangannya karena banyaknya santri yang berkumpul di depan Masjid Menara Kudus maka tradisi dandangan tidak sekedar mendengarkan pengumuman awal puasa saja tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di sekitar masjid Kudus. Dulunya barang-barang yang diperdagangkan hanya berupa makanan, Namun pada masa sekarang tidak hanya makanan saja tetapi barang-barang lain seperti pakaian, alat-alat rumah tangga dan lain sebagainya. Hingga sekarang dandangan dikenal masyarakat sebagai pasar malam yang digelar setiap menjelang bulan Ramadhan. Diskrispsi: Tradisi Dandangan merupakan tradisi yang unik yang dilakukan oleh masyarakat Kudus, Jawa Tengah. Tradisi Dandangan dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun sekali sejak sekitar 450 tahun yang lalu, yaitu pada masa Sunan Kudus ( Syeikh Ja’far Shodiq) menyebarkan Agama Islam di Kota Kudus. Menurut sejarah nama “dandangan” diambil dari suara beduk Masjid Menara Kudus yang berbunyi dang, dang saat ditabuh untuk menandai awal bulan puasa. Menjelang ditabuhnya beduk Masjid Menara Kudus (setelah sholat Ashar), masyarakat berjumpul di halaman masjid, baru kemudian diumumkan awalnya bulan puasa. Tradisi Dandangan merupakan moment yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kudus untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Untuk memanfaatkan moment tersebut masyarakat menggelar dagangannya di sekitar Masjid Menara dan di sepanjang jalan dari Simpang Tujuh hingga Pasar Jember. Pada masa lalu barang yang mereka jual berupa makanan siap makan. Namun kini berbagai jenis dagangan digelar mulai dari makanan, pakaian,perabot rumah tangga hingga mainan anak-anak. Di samping itu dalam acara Dandangan juga menampilkan hiburan tradisional yang dapat dijadikan wahana wisata bagi masyarakat. Acara tradisi Dandangan berlangsung kurang lebih selama dua minggu dari siang sampai malam hari. Di dalam tradisi ini mengandung unsur religi dan budaya yang dapat dirasakan oleh masyarakat Kudus khususnya dan juga masyarakat sekitar Kudus, seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban Jawa Timur. Pada sisi lain Dandangan juga membawa berkah bangkitnya perekonomian, terutama kelas menengah ke bawah. Karena mereka memnfaatkan acara tersebut dengan berjualan di sekitar lokasi. Kehadiran mereka ternyata tidak hanya sekedar mencari keuntungan semata namun lebih dari itu mereka mempunyai harapan dan semangat baru untuk menghadapi kehidupan esok hari akan lebih baik. Dengan tradisi Dandangan akan menjaga keimanan dan perekonomian masyarakat Kudus. Karena orang akan semakin menyadari atau setidaknya ingat bahwa Ramadhan sudah di depan mata, sehingga dapat menyiapkan diri menyambutnya serta dengan Dandangan ini masyarakat khususnya pedagang dapat memperoleh penghasilan atau keuntungan bagi diri dan keluarganya.