Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Pakaian Adat Kudus - Kudus, Jawa Tengah |
Sejarah:
Pakaian Adat kudus merupakan warisan budaya nenek moyang yang dimiliki oleh masyarakat Kudus, Jawa Tengah. Mengenai siapa penciptanya tidak dapat diketahui secara pasti. Pakaian Adat Kudus sudah dipakai oleh masyarakat Kudus secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda Pada masa lampau keberadaan Pakaian Adat Kudus dipakai sesuai dengan kepentingannya dan status sosialnya. Namun pada masa sekarang Pakaian Adat Kudus dapat dijumpai pada upacara-upacara resmi, perhelatan penganten, penerimaan tamu terhormat dan pada saat pergelaran seni budaya yang bersifat tradisional.
Dilihat dari bentuk dan kelengkapan Pakaian Adat kudus mencerminkan perpaduan antara budaya kejawen dengan busana muslim pada jamannya. Kelengkapan Pakaian Adat Kudus penuh dengan ragam symbol wewaarah budi luhur bangsa yang amat tinggi nilainya.Dilihat dari pemakaiannya Pakaian Adat Kudus mencerminkan dan mengatur tatakrama kesopanan.
Diskripsi:
Pakaian Adat Kudus merupakan warisan budaya nenek moyang yang dimiliki oleh masyarakat Kudus, Jawa Tengah. Pakaian Adat Kudus secara turun temurun sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Keberadaan pakaian Adat Kudus pada masa lampau dipakai sesuai dengan kepentingannya dan status sosialnya. Pada masyarakat awam/petani/pedagang, pakaian Adat Kudus dikenakan pada saat pergi kepasar, jagong tasyakuran dll. Sedangkan pada masyarakat berstatus social/sebagai pejabat/tokoh masyarakat, maka pemakaiannya lebih resmi yaitu pada saat perhelatan pengantin, penerimaan tamu dan sebagainya.
Namun pada masa sekarang pemakaian Pakaian Adat Kudus sudah jarang ditemui. Pakaian Adat Kudus hanya dapat dilihat pada acara-acara tertentu seperti pada upacara-uapara resmi seperti perhelatan pengantin, penerimaan tamu dan pada saat pergelaran budaya yang bersifat tradsional. Salah satu upaya untuk melestarikan Pakaian Adat Kudus yaitu sebagai kostum tari Kretek yaitu tari khas Kudus.
Bentuk dan kelengkapan Pakaian Adat Kudus demikian anggun dan berwibawa dan mencerminksn perpaduan antara budaya kejawen dengan busana muslim pada jamannya.Pakaian Adat yang dikenakan oleh laki-laki tidak jauh berbeda dengan pakaian adat Jawa pada umumnya yang terdiri dari balangkon gaya Surakarta, beskap ala Kudusan, kain Batik Lasem bermotif tumbuh-tumbuhan dan bunga dengan warna warni yang mencolok sebagai bawahannya (jarit sinjang Laseman), memakai keris model gayaman dan ladrangan dan memakai selop hitam. Sedangkan pakaian adat yang dikenakan oleh perempuan sungguh sangat unik dan menarik, yaitu pemakaian caping kalo (caping kecil) di atas kepala yang dipasang agak miring kekiri menutupi sebagian rambut yang digelung. Baju yang dikenakan berupa baju kurung. Kebanyakan pakaian laki-laku maupun perempuan berwarna biri tua dan selendangnya lurik Tohwatu yang disampirkan dipundak seperti pakaian adat Melayu yang berwarna gelap pula dan aksesoris seperti kalung, gelang dan giwang berwarna emas membuat kesan anggun bagi siapapun yang memakainya serta penggunaan batik Lasem sebagai bawahan menambah manis Pakaian Adat Kudus ini
Nilai-nilai yang terkandung pada perlengkapan pakaian adat Kudus adalah :
1. Caping kalo : dilihat dari bentuknya melambangkan bahwa setiap manusia wajib pasrah secara bulat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kalung robyong yang berjuntai lima melambangkan sebagai pegangan hidup yaitu rukun Islam yang lima.
3. Kancing Peniti berupa uang emas direnteng melambangkan bahwa manusia harus menghargai nilai-niai iman sampai kedaam reung hati serta mempunyai nilai hidup yang tinggi lebih tinggi dari uang ringgit emas.
4. Gelang lungwi melambangkan bahwa agar orang terkenali agar tidak terjerumus pada perbuatan tercela.
5. Gelang sanggul bertucunduk mentul melambangkan agar bertindak bijaksana.
6. Keris pusaka melambangkan ketenangan jiwa
7. Jam Gandul emas melambangkan petunjuk tentang waktu agar tidak menunda ibadah lima waktu.
8. Bangkon/ikat kepala melambangkan sikap terbuka dan untuk melindungi otakndari semua gangguan.
9. Suweng beras kecer/babon angkrem melambangkan bahwa manusia jangan berbuat gegabah terhadap informasi yang membangkitkan kemarahan.