Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Arsitektur Tradisional Rumah Adat Kudus - Kudus, Jawa Tengah |
Sejarah:
Arsitektur tradsional Rumah Adat Kudus sudah ada sejak jaman perkembangan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Pada waktu itu sebenarnya masyarakat Kudus sudah mengenal batu merah.Tetapi mereka tidak menggunakan batu merah untuk membangun rumah mereka, karena mereka menganggap batu merah sangat istimewa sehingga hanya pantas dipakai untuk membuat candi atau bangunan yang bersifat sakral. Sehingga pada zaman itu bahan baku untuk membuat rumah penduduk adalah batu, kayu dan atapnya dari daun rumbia. Namun demikian pada perkembangnanya mereka juga membuat bata merah dan genting sebagai bahan bangunan dan pengganti atap.
Pada jaman perkembangan Islam, di Kudus ada emigrant Cina yang beragama Islam bermukim di Kudus. Emigran yang paling terkenal bernama The Liang Shing yang kemudian terkenal dengan Kyai Telingsing, Khe Mie Sick dan sebagainya. Para emigra Islam tersebut selain sebagai mubaligh, juga sebgai seniman ukir dan pahat. Konon kabarnya Kyai the Liang Sing adalah pemahat yang beraliran sun ging yang kemudian terjadi kata nyungging (memahat, mengukir).
Tempat para penyunging bermukim hingga saat ini dikennal dengan nama desa “Sunggingan” . Gaya seni ukir aliran Sun Ging yang berkembang di Kudus selanjutnya menjadi unsur pokook dari arsitektur tradisional rumah adat Kudus. Hal itu dapat dilihat pada bentuk dan motif krobongan dan bentuk regol dan kongol rumah adat Kudus yang bermotif ukiran ular naga.
Pada jaman Kanjeng Sunan Kudus Djakfar Shodig memegang pemerintahan di Kudus, secara arif menganjurkan untuk menghormati dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan sebelumnya yang tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan bangunan Menara Kudus dibuat dengan arsitektur Majapaitan dan ornament budaya Hindu pada 8 (delapan) buah pancuran air wudlu. Sehingga gaya arsitektur rumah adat Kudus tidak pernah lepas dari budaya Islam. Hal itu dapat dilihat dari :
- Tiang tunggal yang disebut dengan ‘GEDER’ pada ruang Jogosatru rumah adat Kudus yang melambangkan keesaan Tuhan.
- Jumlah saka guru rumah adat yang hanya 4 buah dsb.
Arsitektur tradisional rumah adat Kudus juga tidak bisa lepas dari legenda tukang kayu bernama Rogomoyo. Hal tersebut dapat dilihat adanya peninggalan rumah-rumah adat Kudus yang konon dibuat oleh Rogomoyo. Rumah adat buatan Rogomoyo pada jamannya sangat dikeramatkan masyarakat karena konon memiliki kekuatan gaib yang mampu mensugesti penghuninya dan merasa aman dari berbagai gangguan.
Rogomoyo juga meninggalkan warisan berupa buku Rajah Rogomoyo (yang hingga saat masih menjadi rahasia) dan alat-alat pertukangan yang semuanya di dukuh Prokowinong Kaliwungu, Kudus.
Deskripsi:
Arsitektur tradisional rumah adat Kudus merupakan warisan budaya yang mempunyai gaya seni bangunan tradisional yang bentuk/struktur/fungsi/ragam hias dan filosofinya merupakan perpaduan budaya Pra Islam, Cina dan budaya Islam di Kudus pada jamannya. Ketiga unsur pokok warisan budaya nenek moyang tersebut menyatu dalam bentuk rumah adat Kudus. Rumah Adat Kudus dibangun dengan bahan baku 95% dari kayu jati berkualitas tinggi dengan system pemasangan knock-down (bongkar pasang tanpa paku).
Komponen pembentuk Rumah Adat Kudus tersebut bukan hanya keindahan arsitekturnya melainkan mempunyai nilai-nilai atau makna filosofis. .
Nilai-nilai yang ada pada arsitektur tradisional rumah adat Kudus di antaranya :
A, Dilihat dari bentuknya yang berupa “Joglo Pencu”, rumah adat Kudus melambangkan bentuk fisik penghuninya yang tampan, gagah serta perkasa, Sedang penghuni rumah tersebut dilambangkan Sang sukma yang menyatu mengisi, dari merawat serta menjaga rumahnya sendiri sebaik-baiknya. Joglo Pencu melambangkan tingginya kuasa Yang Maha agung.atas manusia. Oleh karena penghuni rumah adat Kudus harus selalu ingat serta taqwa terhadap Allah SWT demi keselamatanhidupnya di dunia dan di akhirat.
B..Dilihat Struktur bangunan.
1. landasan fisik rumah adat Kudus berdiri di atas landasan yang terdiri dari 5(lima) lapisan di atas tanah. Kelima
landasan bangunan rumah tersebut mengarahkan penghuninya agar taat melaksanankan 5 (lima) rukun Islam,
demi kebahagiaan di dunia dan di akherat
. 2. kerangka bangunsn
a. Sokoguru bangunan
b. Kerangka bangunan bangunan rumah adat Kudus ditumpu oleh 4 buah sokoguru yang melambangkan :napsu patang prakoro atau 4 nafsu manusia yaitu : amarah, luamah, supiyah dan mutmainah. Hal tersebut mengandung arti bahwa manusia penghuni rumah harus mampu menguasai dan mengendalikan 4 napsu tersebut.
c. Pengeret Tumpang Songo
Di atas keempat sokoguru terdapat PENGERET TUMPANG SONGO (kamuncak berlapis sembilan) yang semakin ke atas semakin mengecil sesuai dengan bubungan joglo yang diinginkan, misalnya tumpang 9 (songo), 7 (tujuh), 5 (lima) atau 3 (tiga tergantung kemampua sosial ekonomi pemiliknya.
3.Bagian Atap
Konon rumah adat Kudus beratap rumbia, namun dalam perkembangannya atap dibuat tanah liat bakar (genting) Bentuk genting atap rumah adat berbeda-beda, Yaitu genting talang, genting slumpring, genting lingir dsb.Sedangkan di atas genteng bertengger gendong, yang pada umumny bermotif tumbuh-tumbuhan sebagai ciri budaya Islam, yang melambangkan bahwa manusia wajib berlindung dan mohon perlindungan kepada raja mannusia, baik yang di dunia (penguasa) maupun yang diakherat yaitu Allah SWT.
D. Tata Ruang
1. Tata ruang bangunan rumah adat Kudus terdiri dari :
a. Ruang Jogo Satru yang berfungsi sebagai ruang tamu (fungsi sebenarnya adalah menanggulangi musuh)
b. Ruang dalam(inti) berfungsi sebagai kamar tinggal dan senthong (kamar utama) untukmenyimpan benda- benda pusaka dan kekayaan
c. Ruang dapur , ruang makan dan gudang
2. Bentuk Ragam Hias
Ragan hias rumah adat Kudus berupa ukir-ukiran yang indah dan sangat tinggi nilai budayanya. Pada umumnya motifnya perpaduan budaya pra Islam.
3. Nilai Filosofis
Nilai filosofis Rumah Tadisional Rumah Adat Kudus mencerminkan betapa dalamnya ilmu, wewarah Budi pekerti nenek moyang yang diwariskan dalam bentuk bangunan yang dihuninya.
Untuk merawat Rumah Adat Kudus yang 95% terbuat dari kayu dan berukir maka ada cara khusus yaitu dengan menggunakan air pelepah pohon pisang dan tembakau dan rendaman cengkeh. Rendaman tersebut direbus terlebih dahulu lalu diendapkan. Airnya dioleskan ke seluruh kayu. Ramuan tersebut efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati dari serangan rayap dan sekaligus meningkatkan pamor dan permukaan kayu jati menjadi lebih bersish dan mengkilap. Cara tersebut diwariskan scara turun temurun dari generasi ke generasi