Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Sadranan Ki Jobeh - Rongkop, Gunung Kidul DI Yogyakarta |
Upacara Sadranan Ki Jobeh merupakan ritual yang dilakukan secara rutin setiap tahun di Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Gunung Kidul. Upacara Sadranan berupa kirab budaya dan gunungan yang berisi hasil palawija yang diarak menuju makam Ki Jobeh. Upacara adat tersebut dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ki Jobeh berarti ijo kabeh. Menurut sejarahnya bermula saat tanaman di Desa Petir tidak bisa hidup karena tidak ada pasokan air yang akhirnya menyebabkan kekeringan dan terancam gagal panen. Seorang petani yang sekaligus juru kunci pertama Ki Jobeh bernama Eyang Kenthung mengeluh melihat kondisi desa yang mengkhawatirkan. Tiba-tiba terdengar suara dalam gundukan tanah ”Sabar nak, yen pengen mangan kudu kerja keras dan usaha. Neng nduwur lan ngisor lemah onosumber panganane menungso” yang berarti sabar nak, jika ingin makan harus kerja keras dan usaha. Di atas dan di bawah tanah ada sumber makanan manusia. Setelah suara itu menghilang, tanaman yang tadinya kering tiba tiba menjadi hijau dan subur. Semenjak saat itu, upacara sadranan selalu dilaksanakan disetiap tahunnya.
Pelaksanaan Upacara Sadranan Ki Jobeh berupa arak-arakan atau kirab. Susunan kirab yang paling depan adalah pasukan prajurit Bregodo Kepanjen kemudian disusul rombongan Pemerintah Desa (Pemdes) Petir. Dibelakangnya merupakan kreasi warga yang diwajibkan memakai pakaian adat, gunungan dan kesenian tradisional seperti reog, jathilan dan lainnya. Setelah sampai di makam Ki Jobeh, semua persembahan dido’akan oleh juru kunci. Upacara Sadranan Ki Jobeh diakhiri dengan kenduri