Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Adat Susuk Wangan Slogohimo - Kab. Wonogiri Jawa Tengah |
Sejarah:
Upacara adat Susuk Wangan sudah sejak dahulu dilakukan, kini para pendukungya tinggal meneruskan tradisi yang telah berlaku turun-temurun warisan nenek moyang. Mereka hanya tahu bahwa upacara adat Susuk Wangan merupakan warisan peninggalan leluhurnya yang sampai sekarang masih tetap dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Mereka tidak akan berani tidak melaksanakan upacara adat Susuk Wangan, karena mereka percaya bila tidak melaksanakan tradisi tersebut takut akan terjadi sesuatu yang kurang baik bagi desanya misalnya kekurangan air, panen gagal, ada wabah penyakit dan lain-lain. Oleh karena kepercayaannya itu, warga masyarakat tidak berani tidak melaksanakan upacara adat Susuk Wangan dengan alasan apapun. Oleh karena kepercayaan para pendukungnya itulah sampai saat ini upacara adat Susuk Wangan tetap dilaksanakan. Maksud dari tradisi tersebut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rakhmat yang telah dilimpahkanNya berupa melimpahnya sumber mata air dari gunung kepada warga, air tersebut tidak hanya dikonsumsi warga tetapi juga untuk mengairi area sawah dan ladang. Ungkapan syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan upacara membersihkan saluran air yang dinamakan susuk wangan. Kata susuk mempunyai makna membersihkan dan wangan berarti saluran air, sehingga susuk wangan mempunyai makna membersihkan saluran air. Masyarakat Desa Setren sebagian besar hidup dari pertanian, sehingga air sangat penting bagi kehidupannya. Di desa ini terdapat sumber air yang sangat melimpah karena desa tersebut terletak di lereng selatan pegunungan Lawu yang masih dikelilingi hutan, dan terdapat grojogan ’air terjun’ Girimanik. Begitu pentingnya air bagi kehidupan, maka sejak jaman nenek moyang sudah ada usaha pelestarian melalui kegiatan ritual, yang berupa upacara adat Susuk Wangan, dengan dilaksanakannya upacara tersebut diharapkan air di Desa Setren tetap mengalir sepanjang masa.
Deskripsi:
Susuk Wangan adalah nama upacara adat yang ada di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Tujuan upacara adat tersebut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rakhmat yang telah dilimpahkanNya berupa melimpahnya sumber mata air dari gunung kepada warga, baik untuk konsumsi maupun mengairi area sawah dan ladang. Ungkapan syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan upacara membersihkan saluran air yang dinamakan susuk wangan. Karena sebagian besar masyarakat Desa Setren bermatapencaharian sebagai petani, sehingga air sangat penting bagi kehidupannya. Mereka berharap dengan dilaksanakannya upacara adat tersebut, di Desa Setren tidak akan kekurangan air.
Waktu pelaksanaan upacara adat menggunakan perhitungan kalender Jawa yaitu pada bulan Besar dengan mengambil hari Sabtu Kliwon. Apabila pada bulan Besar tersebut tidak ada hari Sabtu Kliwon, maka diganti dengan hari Sabtu Legi. Puncak penyelenggaraan upacara adat Susuk Wangan sejak dahulu dilaksanakan di komplek obyek wisata Girimanik di Desa Setren.
Pada pukul 10.00 para pendukung upacara adat Susuk Wangan yang terdiri atas warga Desa Setren dan sekitarnya dengan membawa sesaji encek yang berisi tumpeng dan panggang ayam, yang jumlahnya sekitar 400 encek telah siap di tempat pemberangkatan arak-arakan yang terletak di gapura pintu masuk obyek wisata Girimanik. Selain itu sesaji gunungan yang berupa sayur-sayuran dan buah-buahan juga telah disiapkan, ditambah sesaji lainnya yang ditempatkan pada jodhang. Setelah semuanya siap maka arak-arakan atau kirab sesaji dimulai dengan jalan sepanjang kurang lebih 500 meter menuju obyek wisata Girimanik. Arak-arakan sesaji dilakukan oleh warga Desa Setren dan sekitarnya. Jalannya prosesi kirab, dipimpin langsung oleh Kepala Desa (Kades) Setren. Sesampainya di tempat upacara di obyek wisata Girimanik, sesaji tersebut kemudian diserahkan oleh Kepala Desa Setren kepada Camat Slogohimo dan kemudian ditempatkan di bawah tenda yang telah disiapkan.
Setelah sesaji ditata di tempat upacara kemudian dimulailah rangkaian upacara adat Susuk Wangan yaitu diawali dengan sambutan Ketua Panitia, dilanjutkan sambutan Bupati Wonogiri, kemudian pembacaan doa dan ikrar oleh jurukunci obyek wisata air terjun Girimanik dalam hal ini modin Desa Setren.
Setelah ikrar dan doa selesai, kemudian dilakukan pembagian sesaji kepada semua pengunjung. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan salah satu sesaji itu maka semua yang diinginkan akan terkabul, baik itu dalam hal pangkat, drajat, pertanian, perdagangan, kesehatan dan lain sebagainya. Dengan selesainya acara pembagian sesaji ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara adat Susuk Wangan.