Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Garebeg Mulud Kraton Surakarta - Pasar Kliwon, Surakarta Jawa Tengah
Sejarah: Upacara adat Garebeg Kraton Surakarta bermula dengan adanya tradisi wilujengan nagari ‘selamatan kerajaan’ yang dirayakan pada setiap tahun baru, oleh kerajaan Majapahit. Selamatan ini disebut dengan rajawedha, yang mempunyai arti kitab suci raja atau kebajikan raja, atau sering disebut juga dengan rajameda yang berati hewan kurban raja. Adapun tujuan upacara kurban ini dilaksanakan adalah meminta keselamatan bagi raja, kerajaan dan rakyat Pada masa pemerintahan Raden Patah di Kerajaan Demak upacara tersebut dihilangkan, karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam karena banyak unsur upacara dijiwai oleh nilai-nilai Hindu. Tindakan penghapusan ini membawa dampak luar biasa karena rakyat tidak memerima kebijaksanaan raja. Penghapusan menyebabkan keresahan sosial dan keadaan semakin buruk ketika berjangkitnya wabah penyakit menular. Atas saran para wali, kepercayaan lama ini diselengarakan kembali, namun disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, seperti kurban hewan disembelih secara Islam, doa keselamatan dilakukan secara Islam. Pengalaman sejarah ini dianggap sangat mempengaruhi para raja di Jawa yang menyebabkan mereka tidak mudah melepaskan kepercayaan lama. Upacara ini secara terus-menerus selalu diselenggarakan sampai sekarang oleh para pewarisnya yaitu di KratonYogyakarta, Surakarta, Demak, dan Cirebon. Pada masa kerajaan Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung (1613 - 1645) upacara selamatan kerajaan itu diberi nama garebeg. Istilah garebeg dihubungkan dengan peristiwa pada waktu raja dalam busana kebesaran miyos dari kedhaton menuju ke Sitihinggil. Raja ginarebeg artinya diiringkan oleh ratusan orang yang terdiri atas abdi dalem, prajurit, para putra, keluarga dan kerabat raja, serta para tamu undangan, sehingga suara prosesi itu menjadi gemuruh Deskripsi: Prosesi upacara Garebeg Mulud diawali pada 5 hari sebelum atau 7 hari (bila Garebeg tahun Dal) sebelum hari puncak upacara tanggal 12 Mulud, pada pukul 10.00 dikeluarkannya Gamelan sekaten dari kraton dibawa ke Masjid Agung, dan diletakkan di Pagongan untuk dibunyikan setiap harinya. Pukul 08.00 pada hari puncak upacara yaitu pada tanggal 12 Mulud, prosesi upacara Garebeg Mulud diawali kembalinya gamelan sekaten yang selama 5 hari berada di Masjid Agung, dibawa kembali ke dalam kraton. Persiapan hajad dalem yang berupa gunungan dan kelengkapannya telah disiapkan di bangsal yang terletak di depan Sasanaséwaka. Pada pukul 09.00 raja yang bertahta dalam hal ini Sri Susuhunan Pakubuwono XIII melalui abdi dalem gandhek Nyi Menggung Secapura menyampaikan dhawuh dalem kepada Pengageng Parentah Kraton yang ada di Srimanganti. Sekembalinya abdi dalem gandhek, kemudian Pengageng Parentah Kraton memerintahkan dhawuh dalem kepada prajurit untuk membawa hajad dalem gunungan ke Masjid Agung. Setelah persiapan arak-arakan gunungan siap yang terdiri para prajurit, gamelan pengiring, para abdi dalem dan gunungan, maka arak-arakan dimulai dari halaman bangsal Srimanganti, kemudian keluar menuju Bawulerti selanjutnya melewati Sitihinggil, Pagelaran kemudian menuju Alun-alun Lor lalu belok ke kiri atau ke barat menuju Masjid Agung. Sesampainya di Masjid Agung pimpinan arak-arakan hajad dalem menyerahkan kepada pengulu Masjid Agung. Kemudian hajad dalem yang berupa gunungan dan kelengkapannya diletakan di serambi masjid. Selain itu para abdi dalem dan para punggawa kerajaan duduk di dalam masjid dengan melingkari sesaji dalem yang ditempatkan pada ancak. Setelah persiapan di masjid selesai kemudian pengulu masjid melaksanakan doa yang intinya bahwa hajad dalem ini untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, selain untuk memohon kesejahteraan rakyatnya. Selesai doa kemudian pengulu Masjid Agung memerintahkan kepada abdi dalem pembawa gunungan untuk membagi hajad dalem gunungan kepada masyarakat. Sementara itu masyarakat pengunjung upacara ini sejak pagi telah datang dari berbagai pelosok desa di sekitar Surakarta. Mereka dengan berjubel memadati sekitar kraton mulai dari Bawulerti sampai di Masjid Agung. Karena begitu banyak masyarakat pendukung upacara ini yang ingin mendapatkan berkah hajad dalem gunungan maka acara pembagian hajad dalem ini lebih dikenal dengan rebutan. Mereka berebut untuk mendapatkan bagian dari hajad dalem gunungan. Menurut tatacara pembagian bahwa gunungan akan dibagi di Masjid untuk masyarakat umum, di Baluwerti untuk keluarga kraton, dan di Balai Kota untuk para pejabat pemerintahan, namun karena begitu besar minat para pendukung upacara yang ingin mendapatkan berkah dari hajad dalem ini, maka semua gunungan tersebut habis diperebutkan di halaman Masjid Agung.