Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Dhukutan Nglurah Tawangmangu - Kab. Karanganyar, Jawa Tengah
Di Dusun Nglurah Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, pada setiap hari Selasa Kliwon Wuku Dhukut, sebagian masyarakat mengadakan suatu upacara adat yang sudah diselenggarakan secara turun-temurun berupa bersih desa yang dikenal dengan upacara adat Dhukutan. Upacara tersebut dilaksanakan setiap Selasa Kliwon pada wuku Dhukut atau setiap 7 bulan sekali, yang dipercaya merupakan hari kedatangan Erlangga sebagai cikal bakal Desa Nglurah. Dalam upacara tersebut warga masyarakat Dusun Nglurah membuat sesaji yang berupa hidangan dari palawija, sayur dan nasi jagung. Sesaji kemudan dikumpulkan di rumah sesepuh desa untuk didoakan, mohon agar seluruh warga masyarakat mendapat keselamatan dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya sesaji tersebut dikirab menuju Situs Purbakala Candi Menggung. Di tempat inilah puncak acara dilaksanakan, yaitu tawur sesaji oleh dua kelompok masyarakat. Sesaji tersebut dibawa oleh seorang laki-laki dewasa yang dianggap menjadi jago dari desa masing-masing kelompok. Setelah diberi doa, sesaji dijadikan satu dalam pincuk yang kemudian dibawa mengelilingi candi sebanyak tiga kali. Pada putaran keempat sisa sesaji serta pincuk-nya digunakan sebagai sarana tawuran antara kedua jago. Tawuran tersebut merupakan puncak acara dalam upacara adat Dhukutan, yang melambangkan pertarungan yang pernah terjadi antara Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih. Acara diakhiri dengan hiburan berupa wayang kulit semalam suntuk. Asal mula upacara adat Dhukutan menurut cerita yang berkembang di masyarakat Nglurah bahwa pada jaman dahulu di daerah Nglurah yang terletak di kaki Gunung Lawu tersebut belum ada penghuninya, pada suatu hari ada serombongan pendatang dari Kerajaan Kediri yang datang dan kemudian tinggal di daerah tersebut. Rombongan dari Kediri tersebut dipimpin oleh Erlangga. Karena perjalanan dari Kediri ke daerah ini cukup jauh dan melalui bukit-bukit yang terjal, maka ia kemudian beristirahat dan membasuh kakinya. Teryata ketika Erlangga membasuh kakinya terlihat ada luka dan mengeluarkan darah, sehingga untuk mengenang kejadian tersebut daerah ini kemudian dinamakan Nglurah yang artinya mengeluarkan darah. Sampai sekarang tempat atau daerah ini dinamakan Desa Nglurah. Erlangga kemudian bertempat tinggal di daerah ini dan merupakan cikal bakal Desa Nglurah. Untuk mengenang jasa-jasa Erlangga yang merupakan cikal bakal desa, maka masyarakat Desa Nglurah setiap hari Selasa Kliwon wuku Dhukut, yang dipercaya sebagai hari kedatangan Erlangga di Desa Nglurah diadakan upacara adat bersih desa yang sampai saat ini dikenal dengan upacara adat Dhukutan.