Tari Srimpi Pandhelori merupakan sebuah bentuk tari yang pertama dipelajari sesudah Tari Sari Tunggal, yaitu tari dasar putri di Kridha Beksa Wirama Yogyakarta, pada masa Gusti Nurul belajar. Srimpi Pandhelori menceritakan peperangan antara Sudarawerti, putri Raja di Parang Akik, dengan Dyah Sirtu Pilaheli, putri Sri Karsinah. Peperangan yang sebagian dilakukan dengan menaiki burung garuda berakhir dengan perdamaian dan kerukunan.
Dalam Tari Srimpi Pandhelori terlihat pengaruh Tari Gaya Yogyakarta yang kental, seperti pola-pola gerak yang digunakan, kostum, terutama motif kain dan cara atau teknik menggunakan samparan/seredan. Tari Srimpi Pandhelori merupakan bentuk tari yang menjadi kelangenan KGPAA Mangkunagara VII. Meskipun demikian, tari ini tetap eksis di masa pemerintahan Mangkunagara VIII.