Tari Gambyong Pareanom merupakan buah pemikiran dari Mangkunagara VIII yang berkeinginan mewujudkan pareanom ke dalam sebuah tarian. Pareanom merupakan istilah untuk menyebut warna kuning yang berpadu dengan warna hijau. Di masa Mangkunagara VII, pareanom sudah menjadi warna bendera Mangkunagaran, yaitu hijau dan kuning. Pareanom terdiri atas dua kata yaitu pare yang berarti buah pare dan anom yang berarti muda. Buah pare yang masih muda sangat pahit rasanya. Pareanom dalam arti yang lebih dalam merupakan suatu refleksi agar seseorang cukup kuat dalam menjalani masa-masa pahit dalam kehidupan hingga pada waktunya memperoleh kebahagiaan hidup.
Mengenai gerak tarinya, Mangkunagara VIII mempunyai ide untuk memasukkan unsur gerak tari ”teledek” seperti yang pernah dipelajari oleh para ahli tari di zaman Mangkunagara II. Susunan tari tersebut ditambah gerakan dari tari keraton lainnya yang dianggap cocok, sehingga tersusunlah tari baru yang mirip dengan Tari Srimpi, yang diberi nama Tari Gambyong Pareanom. Penarinya berjumlah empat, karakter tarinya lincah dan kenes (centil).