Tari Bedhaya Pulung diciptakan tidak lama setelah Tari Bedhaya Suryosumirat. Tari ini memuat tema cerita Partakrama dari pewayangan. Kata’pulung’ berarti ‘wahyu’ yang dikaitkan dengan cerita Partakrama yang memiliki arti ‘jodoh’.
Cerita dalam Tari Bedhaya Pulung mengisahkan tentang sebuah perkawinan yang mendapatkan banyak rintangan namun tetap terlaksana karena sudah menjadi wahyu atau jodohnya. Isi cerita Bedhaya Pulung mengenai perkawinan Harjuna dengan Bratajaya. Ide cerita bersumber dari Supardi Ngaliman (Lurah Condro Pangrawit) sekaligus sebagai penyusun tari tersebut.
Tari Bedhaya Pulung sama seperti tari bedhaya yang lain, merupakan tari sakral dan pusaka bagi Pura Mangkunagaran. Tari yang diciptakan di masa pemerintahan Mangkunagara IX ini hanya dipertunjukkan dan ditempatkan pada tempat dan waktu tertentu. Tari Bedhaya Pulung dipergelarkan pada tanggal 3 November 1990 di Pura Mangkunagaran dalam upacara pernikahan GR. Aj. Retno Astrini dengan Tunku (sic!) Abu Bakar dari Johor Malaysia.