Tari Bedhaya Diradhameta merupakan hasil karya Mangkunagara I untuk mengenang perlawanan dan jasa-jasa kelimabelas prajurit andalannya yang gugur di medan laga. Nama Diradhameta diambil oleh Mangkunagara I dari kata Diradha (gajah) dan Meta (mengamuk). Diradhameta adalah tarian si Gajah yang sedang mengamuk, sebuah gerak tari simbolis guna mengenang perjuangan dalam mempertahankan nyawa dan harga diri Mangkunagara I beserta segenap rakyat Mataram terhadap penindasan Belanda.
Tari Bedhaya Diradhameta berhasil direkonstruksi atau digali kembali setelah lebih dari seratus tahun tidak dipergelarkan. Tari yang berhasil direkonstruksi tersebut dipergelarkan pada tanggal 17 Maret 2007 di Surakarta dan tanggal 9 Agustus 2007 di Museum Nasional Jakarta, sebagai bagian dari pesta seni budaya memperingati 250 tahun berdirinya Pura Mangkunagaran.
Keberhasilan rekonstruksi/penggalian tari melalui hasil kajian sejarah dan penelitian yang dilakukan oleh para ahli sejarah dan sesepuh Mangkunagaran, serta atas kerja keras para seniman intelektual dari ISI Surakarta.